Sawitri Ungkap Pengalaman Dibully hingga Trauma, Kini Bangkit Jadi Model Internasional

Model internasional Sawitri. (Dok. Metro TV)

Sawitri Ungkap Pengalaman Dibully hingga Trauma, Kini Bangkit Jadi Model Internasional

Duta Erlangga • 30 June 2026 10:13

Jakarta: Model internasional Sawitri membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh tantangan saat menjadi pembicara di Institut Pariwisata Trisakti. Perempuan yang kini berkarier di Lisbon, Portugal, itu mengaku pernah menjadi korban perundungan sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. 

Sawitri mengatakan saat ini dirinya menetap sementara di Portugal karena pekerjaan sebagai model profesional. Selain itu, ia juga aktif sebagai kreator konten di media sosial. 

"Sekarang saya tinggal di Lisbon, Portugal karena pekerjaan saya berada di Eropa. Sampai sekarang saya masih bekerja sebagai model profesional dan mulai aktif sebagai content creator," ujarnya. 

Di balik karier internasional yang dijalani saat ini, Sawitri mengaku berasal dari keluarga sederhana di Bali Barat. Ayahnya merupakan keturunan Sumatera dan India yang bekerja sebagai pedagang, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya berprofesi sebagai koki.

"Saya datang dari keluarga yang sangat sederhana. Dulu jarak rumah ke sekolah hampir dua jam dan kami tinggal di daerah pelosok," katanya.


Kick Andy Goes to Campus digelar di di Institut Pariwisata Trisakti. (Dok. Metro TV) 

Menurut Sawitri, perbedaan warna kulit, postur tubuh, dan penampilannya membuat dirinya menjadi sasaran perundungan sejak kelas 2 SD hingga kelas 2 SMA. 

"Karena kulit saya lebih gelap, badan saya sangat kurus, dan penampilan saya berbeda, saya sering dijadikan bahan ejekan. Mereka menganggap saya berbeda sehingga tidak diterima di lingkungan sekolah," ujarnya. 
 


Meski berusaha merespons perlakuan tersebut secara positif, Sawitri mengakui perundungan yang dialaminya tetap meninggalkan luka psikologis yang mendalam. 

"Saya selalu mencoba berpikir positif. Namun, sebagai anak kecil tentu hati saya terluka, marah, dan sedih. Saat itu saya juga tidak bisa banyak bercerita kepada orang tua karena kondisi keluarga yang sedang berjuang secara ekonomi," katanya. 

Sawitri menuturkan dampak perundungan masih dirasakan hingga sekarang. Ia mengaku mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, serta kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain. 

"Kepercayaan diri saya sangat rendah. Saya takut mencoba hal baru, takut bertemu orang baru, dan takut tidak diterima. Sampai sekarang pun masih ada rasa takut untuk percaya kepada orang lain," ujarnya. 

Meski demikian, Sawitri perlahan berupaya memulihkan kondisi mentalnya melalui proses penyembuhan, bekerja, membuat konten, serta membangun kehidupan bersama keluarganya.

"Sekarang saya menjalani proses healing sambil bekerja, membuat konten, dan menjalani kehidupan bersama keluarga. Prosesnya panjang, tetapi saya terus berusaha," tuturnya.

Melalui kisah tersebut, Sawitri berharap semakin banyak masyarakat menyadari dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental seseorang serta menumbuhkan empati terhadap sesama. 


                                                    

(Patrick Pinaria)