Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko. Foto: Istimewa.
Merger Raksasa Pakan Global Jangan Jadi Ancaman Peternak Lokal
Anggi Tondi Martaon • 28 February 2026 15:21
Jakarta: Merger dua raksasa industri pakan global, De Heus Animal Nutrition asal Belanda dan CJ Feed & Care asal Korea Selatan, yang bernilai 2.109 miliar won atau sekitar Rp24 triliun diminta menjadi perhatian. Sebab, hal itu bukan hanya sekadar transaksi korporasi biasa.
Akuisisi ini mencakup 17 pabrik pakan di lima negara, termasuk Indonesia, dan akan rampung pada pertengahan 2026. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko, mengatakan merger tersebut harus disikapi secara cermat, waspada, namun tetap optimis.
"Ini adalah ujian nyata bagi daya tahan industri peternakan kita. Pemerintah, pelaku usaha, dan peternak harus bergerak bersama. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di pasar sendiri," ujar Singgih melalui keterangan tertulis, Sabtu, 28 Februari 2026.
Menurut Singgih, merger tersebut sulit ditandingi UMKM peternakan. Sebab, De Heus tidak hanya menjual pakan, tapi juga pendampingan teknis, genetik unggul, hingga pembiayaan.
Peluang Besar Industri Lokal
Meski demikian, Singgih juga mengakui ada peluang besar dari kehadiran pemain global. Terutama dalam mendukung program strategis nasional seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG)Pemerintah telah menaikkan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dari 578 ribu menjadi 800 ribu ekor pada 2026. Namun ia mengingatkan agar kebijakan ini tidak memicu oversupply pada dua hingga tiga tahun mendatang.
"Jangan sampai impor GPS justru membuka celah impor karkas atau daging utuh. Itu ancaman terbesar yang harus dicegah bersama. Peternak lokal harus jadi pemasok utama program MBG, bukan justru tersingkir," ungkap Singgih.

Ilustrasi peternakan ayam. Foto: Antara.
Menurut Singgih, agar merger industri pakan ternak global tersebut tidak menjadi ancaman bagi peternak lokal, maka perlu ada dukungan dan keberpihakan pemerintah. Oleh sebab itu, Pinsar menyarankan tiga langkah.
Pertama, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah data dan tata kelola industri. Fluktuasi harga livebird dan oversupply DOC yang terjadi berulang setiap tahun menunjukkan perencanaan di hulu masih lemah. Kebijakan culling DOC dan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) yang telah berjalan perlu dievaluasi dan ditegakkan secara konsisten.
Kedua, akses peternak kecil terhadap teknologi dan permodalan harus diperluas. Program MBG dinilai sebagai momentum emas bagi peternak lokal.
Ketiga, pemerintah daerah juga harus bergerak. Di Jakarta misalnya, Gubernur Pramono Anung tengah menyusun Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) 2026–2046 yang fokus pada industri bernilai tambah tinggi dan penguatan IKM.
Semangat ini harus ditiru oleh daerah-daerah sentra peternakan, termasuk di Bengkulu dan wilayah lainnya. Industri perunggasan harus dilihat sebagai sektor strategis yang menyerap jutaan tenaga kerja, bukan sekadar komoditas belaka.
Menurut Singgih, merger dua industri pakan global ini harus dimaknai sebagai alarm sekaligus momentum kebangkitan. Menurut dia, industri pakan nasional memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pemain asing yaitu pemahaman mendalam tentang karakteristik peternak lokal, jaringan distribusi yang telah terbangun puluhan tahun, dan loyalitas pelanggan yang kuat.
"Ini adalah modal sosial yang tak ternilai" sebut Singgih.