Bendera Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu Agency)
Delegasi AS dan Iran Akan Bertemu di Swiss untuk Diskusikan Kesepakatan Permanen
Willy Haryono • 20 June 2026 17:16
Jenewa: Utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan menuju Swiss untuk melanjutkan perundingan yang bertujuan mengubah kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran menjadi perjanjian permanen yang lebih komprehensif.
Perkembangan tersebut muncul setelah Israel dan kelompok Hizbullah mencapai gencatan senjata di Lebanon pada Jumat kemarin, yang meredakan ketegangan regional dan membuka kembali peluang bagi proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut laporan kantor berita Axios, Witkoff akan bergabung dengan Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, yang lebih dahulu berada di Swiss. Sementara itu, Araghchi dijadwalkan berangkat pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa kedua pihak siap memulai negosiasi teknis guna mencapai kesepakatan permanen.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin yang bertujuan menghentikan konflik dan membuka masa negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan berbagai perbedaan, termasuk terkait program nuklir Iran.
Kesepakatan sementara itu juga mencakup sejumlah isu strategis lain yang dianggap penting untuk membangun perdamaian yang lebih berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Sebelum ketegangan di Lebanon meningkat, persiapan pembicaraan teknis di kawasan pegunungan Buergenstock, Swiss, dilaporkan telah memasuki tahap lanjut.
Namun, Gedung Putih pada Kamis mengumumkan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss akibat situasi keamanan yang memburuk di Lebanon.
Kesiapan Swiss
Kementerian Luar Negeri Swiss sebelumnya menyatakan pembicaraan tersebut ditunda, tetapi menegaskan kesiapan negaranya untuk terus memfasilitasi proses diplomatik dan mendukung persiapan lanjutan.Kesepakatan sementara antara AS dan Iran mengharuskan seluruh pihak yang terlibat untuk menghentikan operasi militer secara permanen di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon.
Meski demikian, Israel menegaskan bahwa mereka bukan bagian dari kesepakatan tersebut.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Pakistan pada Jumat, Abbas Araghchi mengatakan Amerika Serikat akan bertanggung jawab apabila terjadi pelanggaran terhadap komitmen yang telah disepakati, termasuk terkait penghentian konflik di Lebanon.
Sementara itu, seorang pejabat senior AS menyatakan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku sekitar pukul 16.00 waktu Lebanon setelah kedua pihak sempat saling melancarkan serangan.
Menurut pejabat tersebut, kesepakatan gencatan senjata dicapai melalui mediasi Amerika Serikat dan Qatar dengan dukungan dari Iran.
Dua sumber yang berafiliasi dengan Hizbullah serta seorang pejabat senior Israel juga mengonfirmasi bahwa gencatan senjata telah mulai diberlakukan.
Perkembangan ini meningkatkan harapan bahwa negosiasi yang akan berlangsung di Swiss dapat membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih permanen antara Washington dan Teheran sekaligus membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Baca juga: Iran Desak AS Cegah Israel Gagalkan Kesepakatan Damai Teheran-Washington