Pakistan Dilaporkan Pertimbangkan Serangan Udara Targetkan Houthi Yaman

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif (kiri) dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. (X/@CMShehbaz)

Pakistan Dilaporkan Pertimbangkan Serangan Udara Targetkan Houthi Yaman

Riza Aslam Khaeron • 10 September 2026 17:28

Jakarta: Pakistan dilaporkan sedang mempertimbangkan serangan udara terhadap militan Houthi di Yaman menyusul permintaan dari Arab Saudi, menurut sumber keamanan kepada EFE dan media Turki Turkiye Today pada Rabu, 9 September 2026. Langkah ini dipertimbangkan seiring upaya Islamabad untuk mengoperasionalkan pakta pertahanannya dengan kerajaan tersebut.
 
Perkembangan ini terjadi sehari setelah militan Houthi menyerang target sipil dan ekonomi di Arab Saudi menggunakan rudal dan drone. Serangan milisi Houthi menghantam wilayah Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran, serta menargetkan fasilitas sipil dan energi hingga mengakibatkan lebih dari 70 orang terluka.

"Untuk saat ini, Pakistan sedang mempertimbangkan untuk melakukan serangan udara terhadap pasukan Houthi di Yaman dari tanah Saudi," kata seorang pejabat tinggi keamanan kepada EFE tanpa menyebutkan namanya.
Namun, pejabat tersebut menyatakan bahwa keputusan untuk mengumumkan langkah tersebut ke publik belum diambil.

"Tidak akan ada cara untuk mengonfirmasi apakah serangan telah dilakukan oleh kami atau Saudi kecuali itu dipublikasikan," tambahnya.
 

Pakta Pertahanan Bersama Makkah


Tentara Houthi mengangkat senjata selama parade di Sana'a, Yaman, 2 Desember 2023. (EFE/EPA/YAHYA ARHAB)

Pertimbangan militer ini berlandaskan pakta pertahanan bersama antara Pakistan, Arab Saudi, dan Turki. Pada 7 Agustus 2026, ketiga negara tersebut menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah, sebuah pakta trilateral yang meresmikan sistem pertahanan kolektif.

Tiga kekuatan militer dan ekonomi paling berpengaruh di dunia Muslim ini menyepakati prinsip bahwa serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Menurut sumber keamanan yang dikutip EFE, Pakistan saat ini memiliki lebih dari 10.000 tentara yang ditempatkan di Arab Saudi. Meski demikian, belum jelas apakah ada jet tempur yang turut dikerahkan di sana. Pejabat tersebut juga menolak memberikan informasi mengenai penempatan jet tempur Pakistan, baik yang sebelumnya maupun di masa mendatang di Arab Saudi.

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif memperingatkan bahwa pakta tersebut dapat dioperasionalkan jika terjadi "limpahan" konflik di Yaman ke Riyadh. Saat diwawancarai Geo TV pada Selasa malam, 8 September 2026, Asif ditanya apakah pakta strategis tersebut dapat dioperasionalkan.

Sang menteri menjawab dengan afirmatif dan menegaskan tidak ada "ambiguitas" dalam hal tersebut, sebab perjanjian secara tegas menyatakan bahwa agresi terhadap satu pihak merupakan agresi terhadap semua pihak.

Meskipun demikian, Pakistan menyatakan pada hari Kamis bahwa belum ada pembahasan mengenai respons militer dari Islamabad di bawah Perjanjian Makkah untuk menanggapi serangan Houthi ke Arab Saudi. Kendati demikian, Pakistan menegaskan akan bertindak saat "saatnya tiba".

"Saat ini tidak ada hal semacam itu yang sedang dibahas ... Ketika saatnya tiba, (kami) akan bertindak di bawah perjanjian tersebut," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, dalam pengarahan media mingguan saat menjawab pertanyaan mengenai rencana Islamabad memenuhi kewajibannya di bawah pakta pertahanan bersama yang ditandatangani bersama Turki dan Arab Saudi.
 

Pakistan Sampaikan Peringatan Saudi ke Iran

Pada hari yang sama, Pakistan dilaporkan telah menyampaikan peringatan dari Arab Saudi kepada Iran agar menekan sekutu Houthi mereka di Yaman setelah mereka meningkatkan serangan terhadap kerajaan tersebut. Langkah diplomasi terkoordinasi ini dilakukan untuk mencegah krisis memburuk, sebagaimana dilaporkan Japan Times mengutip laporan Reuters dari sumber-sumber di Arab Saudi, Pakistan, dan Iran pada hari Kamis.

Seorang diplomat senior kawasan mengungkapkan bahwa Pakistan telah menyampaikan pesan tersebut ke Iran dalam 24 jam terakhir, mendesak Teheran memanfaatkan pengaruhnya demi menghentikan serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Seorang pejabat senior Iran membenarkan bahwa Pakistan menyampaikan pesan tersebut ke Teheran pada hari Selasa, namun merespons bahwa "Iran tidak mengendalikan Houthi."

Namun, dua sumber dari Iran menyebutkan bahwa Teheran sebenarnya telah menginstruksikan Houthi pekan lalu untuk melancarkan serangan ke Arab Saudi. Teheran menjanjikan pendanaan dan senjata tambahan, sementara sejumlah komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah bertolak ke Yaman untuk membantu mengoordinasikan serangan.

Diplomat kawasan tersebut menambahkan bahwa Islamabad berupaya meredam Houthi sebelum eskalasi memuncak dan mendorong Riyadh menuntut peran militer aktif dari Pakistan.
 
"Pakistan memiliki perjanjian dengan Arab Saudi, tetapi saya berharap situasi tidak akan mencapai titik di mana Pakistan harus benar-benar turun tangan," kata diplomat tersebut. "Untuk saat ini, mereka akan mengejar solusi diplomatik."

Sumber dari Pakistan menyebutkan bahwa pejabat Arab Saudi telah bertemu dengan perwakilan militer senior dari Pakistan dan Turki di Riyadh untuk mengoordinasikan langkah balasan. Ketiga negara sepakat bahwa pasukan mereka tidak akan memasuki wilayah Yaman dan segala bentuk tindakan balasan hanya akan diluncurkan dari wilayah Arab Saudi.

(Riza Aslam Khaeron)