70% Kasus Kanker Payudara Terlambat Terdeteksi

Tenaga kesehatan/Istimewa

70% Kasus Kanker Payudara Terlambat Terdeteksi

Naufal Zuhdi • 13 May 2026 18:19

Jakarta: Kesadaran perempuan Indonesia terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara dinilai masih rendah. Akibatnya, sekitar 70 persen kasus kanker payudara di Indonesia, baru diketahui saat stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan pasien menjadi lebih kecil.

Dikutip dari Media Indonesia, Rabu, 13 Mei 2026, kanker payudara dapat ditemukan sejak stadium awal, tingkat kelangsungan hidup penderita hingga lima tahun ke depan bisa mencapai 99 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian berbagai pihak mengingat kanker payudara masih menjadi jenis kanker dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia sekaligus salah satu penyebab kematian terbesar akibat kanker.

Perempuan dinilai menjadi kelompok yang rentan mengabaikan kondisi kesehatannya sendiri karena harus menjalankan berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pekerja, ibu rumah tangga, hingga tulang punggung keluarga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 14,37% perempuan di Indonesia merupakan pencari nafkah utama keluarga.
 


Beban tersebut turut memengaruhi kondisi fisik dan mental perempuan. Tingginya tingkat stres serta kurangnya waktu istirahat disebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, termasuk kanker payudara.

Gejala awal kanker payudara umumnya ditandai munculnya benjolan kecil di area payudara yang terasa keras, tidak beraturan, dan sulit digerakkan. Namun banyak perempuan masih enggan melakukan pemeriksaan karena kurang memahami gejala, minim informasi, hingga kekhawatiran terhadap biaya pengobatan yang mahal.

Biaya penanganan kanker payudara stadium lanjut bahkan dapat mencapai ratusan juta rupiah. Karena itu, perlindungan kesehatan dan pemeriksaan rutin dinilai penting untuk menekan risiko keterlambatan penanganan.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendorong masyarakat melakukan deteksi dini kanker payudara secara rutin melalui tiga langkah utama, yakni SADARI (periksa payudara sendiri), SADANIS (pemeriksaan klinis oleh tenaga medis), dan mammografi.


Ilustrasi kesehatan. Foto: Istimewa

Pemeriksaan SADARI dianjurkan dilakukan setiap bulan, khususnya tujuh hingga 10 hari setelah menstruasi. Sementara SADANIS direkomendasikan minimal setahun sekali bagi perempuan berusia di atas 35 tahun atau yang memiliki riwayat keluarga penderita kanker payudara.

Adapun mammografi dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin bagi perempuan usia di atas 40 tahun guna mendeteksi kelainan jaringan payudara sejak dini melalui teknologi sinar-X.

Selain deteksi dini, penerapan pola hidup sehat juga dinilai menjadi langkah penting dalam mencegah kanker payudara. Aktivitas olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok dan alkohol menjadi bagian dari upaya pencegahan yang dianjurkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)