Guru Honorer Jaga Nyala Pendidikan di NTT

Ilustrasi pendidikan. Foto: Unsplash.com/Kimberly Farmer.

Guru Honorer Jaga Nyala Pendidikan di NTT

Palce Amalo • 19 May 2026 19:02

Sikka: Perjalanan menuju ruang kelas bagi Yustina Yuniarti, seorang guru honorer di SDK Wukur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan sebuah bentangan panjang pengabdian. Setiap hari, Yustina harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 6 kilometer membelah hutan dan medan jalan setapak yang terjal, demi menjaga asa serta keberanian bermimpi anak-anak di pelosok NTT.

“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tutur Yustina, dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 19 Mei 2026.
 


Yustina telah mendedikasikan hidupnya selama 11 tahun di SDK Wukur. Di tengah keterbatasan akses geografis dan impitan ekonomi, ia memilih setia mendampingi 34 siswa yang menimba ilmu di sekolah tersebut bersama tujuh guru lainnya. Baginya, proses belajar-mengajar di ruang kelas yang sederhana itu merupakah sebuah ketulusan yang harus terus dirawat.

Keteguhan hati Yustina merefleksikan potret perjuangan para pendidik di daerah tertinggal, sekaligus mengingatkan pada kegigihan para ibu nasabah Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Mereka adalah perempuan prasejahtera yang terus berjuang dalam sunyi demi masa depan anak-anak mereka.


PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Peduli hadir memberikan dukungan sosial kepada Yustina. Foto: Dok.Istimewa.

Sebagai bentuk apresiasi nyata terhadap dedikasi tanpa pamrih tersebut, PT PNM melalui program PNM Peduli hadir memberikan santunan dan dukungan sosial kepada Yustina. Bantuan dari salah satu BUMN ini diharapkan dapat meringankan beban sekaligus menjadi pemantik semangat baru bagi para tenaga pendidik di daerah terpencil.

“Dukungan ini sangat berarti, bukan hanya untuk saya, tetapi juga menjadi semangat baru agar saya bisa terus mengajar anak-anak di sini. Semoga perhatian seperti ini membuat kami semakin kuat untuk tetap menjalankan tugas dengan hati,” ungkap Yustina.

Bagi manajemen PNM, kisah perjuangan Yustina menjadi pengingat penting bahwa esensi pemberdayaan masyarakat tidak hanya berputar di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemberdayaan sejati juga hidup di dalam ruang-ruang kelas sederhana, di mana masa depan generasi penerus bangsa Indonesia mulai dipertaruhkan dan dibangun.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)