Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
AS-Iran Dekati Perpanjangan Gencatan Senjata 60 Hari, Selat Hormuz Segera Dibuka
Willy Haryono • 24 May 2026 12:37
Washington: Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali ekspor minyak Iran.
Mengutip Axios, Minggu, 24 Mei 2026, seorang pejabat AS yang mengetahui rancangan kesepakatan tersebut mengatakan pengumuman resmi bahkan dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Meski demikian, pejabat tersebut mengingatkan kesepakatan masih bisa gagal sebelum ditandatangani secara resmi.
Berdasarkan rancangan memorandum of understanding yang sedang dibahas, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal melintas tanpa pungutan biaya.
Sebagai imbalannya, Washington akan menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran serta memberikan pelonggaran sanksi terbatas agar Teheran dapat kembali menjual minyak selama periode 60 hari.
Seorang pejabat AS menggambarkan skema tersebut sebagai “relief for performance”, di mana keringanan ekonomi diberikan setelah Iran mengambil langkah konkret, bukan di awal kesepakatan.
Program Nuklir Iran Masuk Pembahasan
Rancangan kesepakatan juga mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.Teheran disebut akan bernegosiasi mengenai penghentian pengayaan uranium dan pemindahan stok uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi.
Namun, isu pencabutan sanksi yang lebih luas maupun pencairan aset Iran yang dibekukan baru akan dibahas selama masa gencatan senjata berlangsung dan hanya diterapkan jika tercapai kesepakatan final yang terverifikasi.
Pasukan AS di kawasan juga akan tetap berada di posisinya selama periode 60 hari tersebut dan baru akan ditarik jika kesepakatan permanen berhasil dicapai.
Konflik Israel-Hizbullah
Kesepakatan itu juga disebut berkaitan dengan upaya mengakhiri perang antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menyampaikan kekhawatiran terkait poin tersebut dalam percakapan telepon dengan Presiden Donald Trump pada Sabtu.
Meski demikian, pejabat AS mengatakan Israel tetap diizinkan mengambil tindakan jika Hizbullah mencoba kembali mempersenjatai diri atau melanjutkan serangan.
Upaya diplomasi tersebut mendapat dukungan dari sejumlah negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.
Pakistan disebut memainkan peran penting sebagai mediator, termasuk melalui kunjungan Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir ke Teheran.
Gedung Putih berharap berbagai isu yang tersisa dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Namun, pejabat AS juga memperingatkan gencatan senjata dapat berakhir lebih cepat jika Washington menilai Iran tidak serius dalam negosiasi nuklir.
Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Akan Segera Diumumkan