Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX melalui pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH) membahas perkembangan ekonomi rendah karbon. Dokumentasi/ istimewa.
Jakarta Disiapkan Jadi Penghubung Proyek dan Pembiayaan Ekonomi Karbon
Deny Irwanto • 6 September 2026 06:52
Jakarta: Perkembangan ekonomi rendah karbon mulai membuka ruang baru bagi dunia usaha di Indonesia. Salah satunya melalui pengembangan ekosistem yang mempertemukan pemilik proyek, pelaku usaha, investor, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan pemerintah.
Upaya tersebut dilakukan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX melalui pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH). Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman untuk menjajaki pengembangan ekosistem ekonomi karbon.
Co-Founder LestarX (Lestari Carbon X), Zulfahmy Wahab, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi karbon. Namun, potensi tersebut masih membutuhkan ekosistem yang dapat menghubungkan berbagai pihak, mulai dari pemilik proyek hingga pembiayaan dan pasar.
Menurut Zulfahmy, ekonomi hijau ke depan tidak hanya berkaitan dengan perdagangan kredit karbon. Perkembangannya juga dapat berkaitan dengan investasi, industri, teknologi, lapangan kerja, dan berbagai kegiatan usaha yang mendukung proses dekarbonisasi.
Menghubungkan Proyek dan Pembiayaan
Jakarta Carbon Central Hub dirancang sebagai ruang yang menghubungkan berbagai bagian dalam ekosistem ekonomi karbon. Di sisi hulu, terdapat potensi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan, mangrove dan blue carbon, pertanian regeneratif, pengelolaan limbah, energi terbarukan, efisiensi energi, hingga teknologi carbon removal seperti biochar.

Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX melalui pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH) membahas perkembangan ekonomi rendah karbon. Dokumentasi/ istimewa.
Sementara kebutuhan untuk mengurangi emisi datang dari berbagai sektor, termasuk korporasi, kawasan industri, lembaga keuangan, investor, dan rantai pasok global. CCH diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan tersebut melalui pengembangan proyek, peningkatan kapasitas, teknologi MRV (Measurement, Reporting and Verification), akses pembiayaan hijau, pengembangan pasar, serta kemitraan investasi.
“Kita ingin membangun jembatan antara potensi karbon Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dengan capital, technology, industry dan market yang terkonsentrasi di Jakarta. Dengan begitu, nilai tambah ekonomi karbon tidak berhenti pada penerbitan kredit karbon, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri baru,” jelas Zulfahmy.
Peluang bagi Dunia Usaha
Ketua Umum HIPPI Jakarta Pusat, Denma Willyando, mengatakan perkembangan ekonomi rendah karbon perlu dapat diikuti oleh pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk pengusaha nasional dan UMKM. Menurut Denma, keterlibatan HIPPI dalam pengembangan Carbon Central Hub menjadi bagian dari upaya membuka akses dunia usaha terhadap pengetahuan dan peluang yang muncul dari transisi energi serta pembangunan berkelanjutan.
“Ekonomi hijau tidak boleh menjadi ruang yang hanya dapat dimasuki perusahaan besar. Pengusaha nasional dan UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi karbon. HIPPI ingin membuka akses terhadap pengetahuan, teknologi, proyek, pembiayaan, dan pasar sehingga transisi hijau juga melahirkan pengusaha-pengusaha baru Indonesia,” ujar Denma Willyando.
Kolaborasi HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX juga diarahkan untuk menjajaki pengembangan proyek karbon yang memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Lima Bidang yang Dikembangkan
Pengembangan Carbon Central Hub juga dikaitkan dengan posisi Jakarta sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi dan bisnis nasional. Kota ini memiliki ekosistem yang terdiri atas lembaga keuangan, korporasi, investor, asosiasi usaha, penyedia teknologi, serta berbagai institusi lainnya.
Dalam rancangannya, CCH mencakup lima bidang utama, yaitu Carbon Project Development, Carbon Market & Offtake, Green Finance & Investment, Technology & MRV, serta Capacity Building & Green Entrepreneurship.
Kelima bidang tersebut diarahkan untuk mempertemukan potensi proyek karbon dari berbagai daerah di Indonesia dengan kebutuhan dekarbonisasi dan sumber pembiayaan.
Mencari Nilai Tambah dari Ekonomi Karbon
Zulfahmy menilai perkembangan ekonomi karbon perlu diikuti dengan upaya meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Menurutnya, sumber daya seperti hutan, mangrove, biomassa, lahan pertanian, energi terbarukan, dan potensi carbon removal dapat dikembangkan bersama teknologi dan industri pendukung.
“Kita tidak ingin mengulang sejarah ekonomi ekstraktif dalam bentuk baru. Indonesia memiliki hutan, mangrove, biomassa, lahan pertanian, sumber energi terbarukan dan potensi carbon removal yang luar biasa. Kekayaan tersebut harus kita konversi menjadi intellectual property, teknologi, investasi, industri, lapangan kerja dan nilai ekonomi yang sebesar-besarnya bagi Indonesia,” tegas Zulfahmy.
Ke depan, forum kolaborasi akan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, BUMN, swasta, kawasan industri, lembaga keuangan, universitas, asosiasi bisnis, komunitas, pemilik proyek, hingga mitra internasional.
Sejumlah sektor yang akan dijajaki meliputi biochar dan pemanfaatan biomassa, kehutanan dan agroforestri, blue carbon, pengelolaan sampah dan circular economy, energi bersih, efisiensi industri, serta solusi carbon removal.
HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX selanjutnya akan menyusun peta jalan pengembangan Carbon Central Hub serta mengidentifikasi sejumlah proyek yang berpotensi dikembangkan.
“Visi besarnya sederhana: proyek karbon dapat berada di seluruh penjuru Nusantara, tetapi Jakarta harus menjadi tempat bertemunya capital, technology, talent dan market. Dari Jakarta, kita ingin membawa nilai ekonomi karbon Indonesia ke panggung dunia,” ujar Zulfahmy.