Pangkalan militer strategis Mali di Tessalit jatuh ke tangan pemberontak. (Anadolu Agency)
Pemberontak Rebut Pangkalan Militer Mali di Tessalit, Junta Hadapi Krisis Besar
Dimas Chairullah • 2 May 2026 11:45
Bamako: Tentara Mali bersama pasukan Rusia sebagai sekutu dilaporkan mundur dari pangkalan militer strategis Tessalit di wilayah utara, yang kemudian jatuh ke tangan kelompok pemberontak bersenjata.
Perkembangan ini menandai eskalasi serius dalam krisis keamanan Mali, ketika kelompok separatis Tuareg dan militan Islamis memperkuat koordinasi serangan terhadap junta militer yang berkuasa.
Menurut sumber keamanan setempat, pasukan reguler dievakuasi sebelum para penyerang memasuki pangkalan utama di Tessalit, yang berada dekat perbatasan Aljazair.
“Tidak terjadi bentrokan di Tessalit, pasukan reguler telah dievakuasi ketika para penyerang masuk,” kata sumber tersebut, seperti dikutip TRT World, Sabtu, 2 Mei 2026.
Seorang pejabat lokal juga menyebut pasukan Rusia telah meninggalkan wilayah tersebut.
Pangkalan Militer Tessalit
Tessalit memiliki nilai strategis tinggi karena dilengkapi landasan pacu yang mampu menampung helikopter dan pesawat militer besar, sekaligus menjadi salah satu pangkalan tertua peninggalan era kolonial Prancis di kawasan Sahara.Setelah kehilangan Tessalit, pasukan Mali juga dilaporkan menarik diri dari pangkalan Aguelhok yang berjarak sekitar 100 kilometer di selatannya.
Serangan besar-besaran pada akhir pekan lalu dipimpin Front Pembebasan Azawad (FLA) yang didominasi kelompok Tuareg, bersama Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM).
Kelompok-kelompok tersebut sebelumnya berhasil merebut Kota Kidal, wilayah strategis utama di utara. Eskalasi terbaru ini disebut sebagai salah satu serangan paling serius di Mali dalam hampir 15 tahun terakhir.
Kematian Menhan Mali
Sedikitnya 23 orang dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan, termasuk Menteri Pertahanan Mali Sadio Camara, yang meninggal akibat ledakan bom mobil di Kati, dekat Bamako.Pemerintah Mali telah menggelar penghormatan kenegaraan bagi Camara pada Kamis.
UNICEF juga melaporkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan anak-anak, sementara sejumlah fasilitas sipil seperti pusat kesehatan di Gao dan sekolah di Mopti turut terdampak konflik.
Kantor Kejaksaan Militer Bamako kini melakukan investigasi atas dugaan keterlibatan personel militer aktif maupun mantan prajurit dalam serangan tersebut.
Nama politikus oposisi yang berada di pengasingan, Oumar Mariko, juga disebut dalam dokumen awal penyelidikan.
Sebagai respons, Mali bersama Burkina Faso dan Niger yang tergabung dalam Aliansi Negara-Negara Sahel (AES) tengah menyiapkan operasi militer gabungan, termasuk kampanye serangan udara, guna menahan laju pemberontakan yang terus meluas.
Baca juga: Pemimpin Militer Mali Muncul ke Publik Usai Rusia Klaim Gagalkan Upaya Kudeta