Ilustrasi. Foto: Freepik.
Imbas Konflik Timur Tengah, Bank Dunia Ramal Harga Energi Melonjak 24%
Richard Alkhalik • 29 April 2026 11:42
Washington: Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah memicu guncangan masif pada tata niaga pasar komoditas global. Merujuk pada laporan Commodity Markets Outlook terbaru yang dirilis oleh Grup Bank Dunia, harga energi diproyeksikan melonjak hingga 24 persen pada 2026, menyentuh level tertingginya sejak krisis invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Angka tersebut bersumber dari serangan terhadap infrastruktur energi dan disrupsi pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak mentah global sekitar 35 persen lintas laut. Kondisi tersebut telah memicu guncangan pasokan minyak terbesar dalam catatan sejarah yang diawali dengan defisit pasokan global sekitar 10 juta barel per hari.
Kendati sempat melandai dari titik puncaknya, harga minyak mentah Brent pada pertengahan April tetap bertengger lebih dari 50 persen di atas level awal tahun.
Bank Dunia memproyeksikan harga minyak Brent akan berada di rata-rata USD86 per barel pada 2026, naik tajam dari level USD69 per barel pada 2025 sebelumnya. Hal tersebut mengasumsikan disrupsi akan mereda pada Mei dan arus logistik berangsur normal ke level pra perang pada akhir 2026.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Unplash)
Dampak ke lapangan kerja dan ekonomi
Kepala Ekonom sekaligus Wakil Presiden Senior Bidang Ekonomi Pembangunan Grup Bank Dunia Indermit Gill memperingatkan guncangan tersebut membawa implikasi serius terhadap penciptaan lapangan kerja dan pembangunan ekonomi.“Perang menghantam ekonomi global dalam gelombang kumulatif: pertama melalui harga energi yang lebih tinggi, kemudian harga pangan yang lebih tinggi, dan akhirnya, inflasi yang lebih tinggi yang akan menaikkan suku bunga dan membuat utang semakin mahal,” kata Indermit dalam keterangan resmi, dikutip pada Rabu, 29 April 2026.
Indermit menegaskan situasi tersebut menjadi pengingat akan realitas yang gamblang bahwa perang sejatinya adalah kemunduran bagi pembangunan peradaban dan ekonomi.