Ilustrasi batu bara. Foto: Freepik.
Indonesia Masih Andalkan Batu Bara Demi Jaga Tarif Listrik
Husen Miftahudin • 2 May 2026 20:41
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah masih akan mempertahankan pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) guna menjaga efisiensi energi dan keterjangkauan tarif listrik bagi masyarakat.
Bahlil mengatakan, Indonesia memiliki cadangan batu bara yang besar sehingga pemanfaatannya masih diperlukan di tengah dinamika ketahanan energi global. Ia juga menilai Indonesia tidak bisa terburu-buru meninggalkan batu bara, terutama ketika sejumlah negara maju justru kembali membuka opsi penggunaan energi fosil tersebut.
Menurut Bahlil, Amerika Serikat (AS) maupun sejumlah negara Eropa kini juga kembali memanfaatkan batu bara untuk menjaga ketahanan energi domestik mereka.
"Sekarang Amerika buka opsi batu bara. Di Eropa membuka opsi batu bara, ada minta ke kita untuk 20 juta ton per tahun," ungkap Bahlil saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 2 Mei 2026.
| Baca juga: Bahlil: Minyak Mentah Rusia Sebentar Lagi Masuk Indonesia! |

(Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: dok Kementerian ESDM)
Utamakan efisiensi dalam penentuan arah transisi energi
Bahlil menilai Indonesia perlu mengutamakan efisiensi dan kepentingan nasional dalam menentukan arah transisi energi. Bahlil menegaskan pemanfaatan batu bara masih diperlukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional.
"Saya putuskan, saya bilang batu bara jalan aja dulu. Ini bicara tentang survival mode. Kita bicara tentang efisiensi. Jangan kita korbankan rakyat kita dengan harga listrik yang besar," tegas dia.
Kementerian ESDM mencatat produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Realisasi tersebut turun 5,5 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar 836 juta ton, tapi masih melampaui target produksi tahun ini sebesar 739,6 juta ton.
Dari total produksi tersebut, sekitar 514 juta ton atau 65,1 persen disalurkan ke pasar ekspor. Sementara pemenuhan kebutuhan domestik atau domestic market obligation (DMO), baik untuk sektor kelistrikan maupun nonkelistrikan, mencapai sekitar 254 juta ton atau 32 persen dari total produksi.
Adapun sisa produksi yang dicadangkan sebagai stok batu bara hingga akhir 2025 tercatat sebesar 22 juta ton atau sekitar 2,8 persen dari total produksi nasional.