Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin. Foto: Istimewa
2 Bulan Pascabencana, 155 Ribu Jiwa di Aceh Masih Bertahan di Pengungsian
Fajri Fatmawati • 16 January 2026 20:58
Banda Aceh: Sebanyak 155.193 jiwa atau sekitar 49.800 kepala keluarga (KK) hingga kini masih bertahan di pengungsian pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025. Pemerintah terus memacu pembangunan hunian sementara (huntara) sebagai bagian dari upaya pemulihan.
Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, mengatakan para pengungsi tersebar di 988 titik lokasi pengungsian di sejumlah kabupaten dan kota.
“Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Aceh Utara dengan 67.876 jiwa, disusul Aceh Tamiang sebanyak 26.040 jiwa, Gayo Lues 19.906 jiwa, dan Pidie Jaya 14.794 jiwa,” kata Murthalamuddin, Jumat, 16 Januari 2026.
Selain itu, pengungsi juga masih tercatat di Aceh Timur (8.507 jiwa), Aceh Tengah (8.021 jiwa), Bireuen (5.895 jiwa), Bener Meriah (2.116 jiwa), Nagan Raya (1.763 jiwa), Lhokseumawe (138 jiwa), serta Pidie (137 jiwa).
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman. Tercatat 148.819 unit rumah terdampak, dengan rincian 64.740 unit rusak ringan, 40.114 unit rusak sedang, serta 29.755 unit rusak berat atau hilang. Hingga kini, pendataan merinci 14.210 unit rumah mengalami rusak berat dan 1.942 unit hilang.
Baca Juga :
Jembatan Bailey Baroh Bugeng Aceh Timur Rampung, Akses Warga Nurussalam Kembali Terhubung
“Pemerintah bersama unsur terkait terus mempercepat pembangunan huntara bagi warga yang masih mengungsi, sembari menyiapkan pembangunan hunian tetap (huntap),” ujar Murthalamuddin.
Sementara itu, sebanyak 24 desa di Kabupaten Aceh Tengah masih mengalami keterisolasian akibat bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir November 2025. Wilayah yang masih terisolir tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge.
“Total penduduk yang terdampak mencapai 10.914 jiwa,” kata Murthalamuddin.
.jpg)
Jembatan Bailey Wih Kanis di Kampung Mangku, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, kembali dapat dilintasi. Foto: Istimewa
Di Kecamatan Ketol, sembilan desa masih terisolir dengan total penduduk terdampak 4.951 jiwa akibat terputusnya jembatan dan longsor. Di Kecamatan Silih Nara, dua desa dengan 254 jiwa terisolir karena putusnya jembatan. Lima desa di Kecamatan Rusip Antara (2.765 jiwa) dan tujuh desa di Kecamatan Linge (2.362 jiwa) juga masih sulit diakses.
Pemerintah terus berupaya mempercepat penanganan darurat serta pemulihan akses ke wilayah-wilayah yang masih terisolir, termasuk melalui pembukaan jalur darat sementara dan penanganan infrastruktur rusak.
“Upaya penanganan terus dilakukan secara bertahap agar akses masyarakat kembali normal, terutama di desa-desa yang hingga kini masih terisolir,” kata Murthalamuddin.