Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Dok BI
BI Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas di Pertemuan IMF-Bank Dunia
Eko Nordiansyah • 19 April 2026 10:37
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah ketidakpastian global pada Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF–World Bank Spring Meetings) di Amerika Serikat.
Perry mengatakan komitmen tersebut dilakukan melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan.
Selain itu, sinergi erat dengan pemerintah dilakukan dalam menjaga disiplin fiskal, termasuk komitmen mempertahankan defisit di bawah tiga persen dari produk domestik bruto (PDB) dan realokasi belanja ke sektor produktif.
"Dalam jangka menengah, Indonesia terus mendorong arah transformasi struktural menuju sektor ekonomi yang bernilai tambah lebih tinggi melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," kata Perry dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, dilansir dari Antara, Minggu, 19 April 2026.
Penegasan komitmen tersebut merupakan respons terhadap sorotan IMF mengenai pentingnya upaya otoritas agar fokus pada langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global sekaligus memastikan transformasi ekonomi memberi manfaat bagi pertumbuhan.
Baca Juga :
Meski Fundamental Kuat, IMF Wanti-wanti Asia soal Ancaman Inflasi dan Disrupsi Rantai Pasok
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Ketidakpastian semakin kompleks
IMF menyampaikan pandangan bahwa perekonomian global tetap resilien, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian yang semakin kompleks, terutama akibat perang di Timur Tengah.Di sisi lain, perubahan besar di bidang teknologi, demografi, dan lingkungan turut menciptakan tantangan sekaligus peluang baru.
Perubahan tersebut termasuk akal imitasi (AI), yang berpotensi produktivitas dan kesejahteraan, sekaligus menimbulkan disrupsi di berbagai sektor seiring pesatnya perkembangan teknologi tersebut.
Adapun langkah strategis yang disarankan menitikberatkan pada penjagaan ekspektasi inflasi dengan memastikan komunikasi kebijakan yang jelas guna mendukung efektivitas kebijakan moneter, menjaga stabilitas keuangan melalui penguatan pengawasan dan regulasi perbankan, serta mempertahankan kredibilitas kebijakan fiskal di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.
Selain itu, negara-negara juga ditekankan untuk mendorong reformasi struktural, memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi dan pemanfaatan energi terbarukan, serta mempererat kerja sama internasional.
IMF juga menyoroti perlunya upaya bersama dalam memperkuat jaring pengaman keuangan global untuk memperkuat ketahanan kolektif melalui pemberian bantuan bagi negara anggota yang membutuhkan, serta meningkatkan kapasitas IMF dalam menjalankan fungsi surveilans, pembiayaan, dan pemberian asistensi teknis yang relevan bagi negara-negara anggota.
Maka, dalam pertemuan itu, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral menyepakati Global Policy Agenda sebagai langkah bersama mengelola tekanan dan transformasi.