Bukan hanya Infrastruktur, Jakarta Perkuat Keterhubungan Layanan Warga

Ilustrasi - Monumen Nasional (Monas) menjadi ikon Jakarta. Foto: ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna/aa.

Bukan hanya Infrastruktur, Jakarta Perkuat Keterhubungan Layanan Warga

Mohamad Farhan Zhuhri • 7 June 2026 13:17

Jakarta: Bank Jakarta menilai tantangan terbesar yang dihadapi Jakarta saat ini bukan lagi bertumpu pada ketersediaan infrastruktur fisik ataupun teknologi canggih. Tantangan utama yang krusial untuk diselesaikan dalam mewujudkan kota global yang inklusif adalah memperkuat keterhubungan atau konektivitas rill antara warga dengan berbagai akses layanan kota.

“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” ujar Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, dalam kegiatan Urban Talks BUMD di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, dikutip dari Media Indonesia, Minggu, 7 Juni 2026.
 


Guna menjawab tantangan tersebut, Bank Jakarta menegaskan komitmennya untuk mengambil peran sebagai Financial Operating System. Sistem ini dirancang untuk menjadi jembatan sektor keuangan yang mengintegrasikan berbagai peluang serta kebutuhan masyarakat luas dalam satu ekosistem kota yang utuh.

Agus mengilustrasikan, jika MRT Jakarta bergerak sebagai Mobility Operating System yang mengubungkan mobilitas warga, Transjakarta sebagai wadah transportasi publik, dan PAM Jaya mengelola air bersih, maka Bank Jakarta hadir untuk merajut ekosistem keuangannya.

Sebagai langkah konkret memperkuat keterhubungan warga dengan layanan, Bank Jakarta telah menyiapkan empat strategi utama. Strategi pertama berfokus pada perluasan inklusi keuangan digital agar masyarakat yang selama ini belum tersentuh sistem keuangan formal dapat mengakses layanan perbankan secara mudah dan aman.

Langkah kedua dan ketiga menyasar pada keterhubungan sektor produktif serta papan. Bank Jakarta berkomitmen membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM dan mempermudah akses pembiayaan perumahan terjangkau (housing inclusion), khususnya bagi generasi muda Jakarta yang kesulitan memiliki rumah pertama.


Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo (kedua dari kanan), dalam kegiatan Urban Talks BUMD di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. Foto: Dok. Istimewa,

Sementara strategi keempat diarahkan pada penguatan iklim investasi (investment enablement). Skema ini diharapkan mampu menghubungkan para investor dengan peluang pembangunan berkelanjutan di Jakarta, mengingat pembangunan kota global tidak bisa hanya bertumpu pada dana APBD.

“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” tegas Agus.

Lebih lanjut, Agus mengingatkan jajarannya agar memegang teguh prinsip no one left behind dalam menjalankan transformasi digital perkotaan. Keterhubungan teknologi yang dibangun harus dipastikan membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat bawah, termasuk pedagang kaki lima, agar tidak menciptakan kesenjangan sosial yang makin lebar.

Melalui visi besar ini, BUMD jasa keuangan tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak ekosistem pembangunan yang tangguh, cerdas, serta kompetitif di kancah internasional.

“Ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan,” ucap dia.

(Fachri Audhia Hafiez)