Transaksi Valas Naik Pesat, Ini Cara Kelola Kurs dan Biaya agar Lebih Hemat

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Transaksi Valas Naik Pesat, Ini Cara Kelola Kurs dan Biaya agar Lebih Hemat

Ade Hapsari Lestarini • 10 July 2026 11:42

Jakarta: Kebutuhan masyarakat Indonesia untuk bertransaksi dalam valuta asing (valas) terus meningkat. Mulai dari perjalanan wisata, ibadah, pendidikan di luar negeri, hingga aktivitas ekspor-impor dan belanja daring lintas negara menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan transaksi valas nasional.

Tren tersebut juga tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas di industri perbankan. Hingga Mei 2026, DPK valas tumbuh 18,1 persen secara year-to-date (YTD) dan meningkat 18,7 persen secara year-on-year (YoY). Sementara itu, tabungan valas naik 29,9 persen YoY pada periode yang sama. Adapun transaksi luar negeri menggunakan kartu debit meningkat 37 persen YoY per Maret 2026.

Liabilities Banking Services Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Steven Dhalimarta, mengatakan meningkatnya mobilitas masyarakat ke luar negeri turut mengubah kebutuhan layanan keuangan. Nasabah kini tidak hanya mencari kurs yang kompetitif, tetapi juga menginginkan transaksi yang praktis, aman, dan transparan.

"Kebutuhan masyarakat terhadap transaksi lintas negara semakin beragam. Karena itu, pengelolaan valas kini tidak lagi hanya soal membeli mata uang asing, tetapi juga bagaimana transaksi dapat dilakukan secara efisien dengan biaya yang jelas," ujar Steven dalam Danamon Journalist Class 2026 di Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.

Menurut dia, banyak masyarakat masih beranggapan biaya transaksi valas hanya ditentukan oleh nilai tukar. Padahal, terdapat sejumlah komponen lain yang turut memengaruhi besarnya biaya yang harus dibayarkan nasabah.

Steven menjelaskan total biaya transaksi atau total cost of transaction merupakan akumulasi dari kurs, selisih harga jual dan beli (spread), biaya administrasi rekening, hingga biaya transaksi lain seperti penutupan rekening, penarikan tunai melalui ATM luar negeri, maupun penarikan uang fisik (bank notes).

"Nasabah sebaiknya tidak hanya membandingkan kurs. Yang perlu dihitung adalah keseluruhan biaya transaksi sehingga dapat mengetahui biaya riil yang dikeluarkan," jelas dia.

Selain persoalan biaya, masyarakat juga masih menghadapi tantangan dalam mengelola dana valas. Salah satunya adalah kebutuhan membuka beberapa rekening berbeda untuk mata uang yang berbeda, sehingga pengelolaan dana menjadi kurang efisien.
 




Liabilities Banking Services Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Steven Dhalimarta. Foto: dok Bank Danamon.
 

Penggunaan uang tunai ke luar negeri masih cukup tinggi


Di sisi lain, penggunaan uang tunai saat bepergian ke luar negeri masih cukup tinggi. Padahal, transaksi menggunakan uang fisik memiliki sejumlah risiko, mulai dari kehilangan, pencurian, hingga penurunan nilai akibat kondisi uang yang rusak atau lusuh.

Karena itu, transaksi valas secara digital dinilai menjadi alternatif yang lebih aman. Selain mengurangi risiko membawa uang tunai, transaksi digital juga memberikan kemudahan dalam pemantauan saldo dan pembayaran lintas negara.

Steven juga meluruskan sejumlah anggapan yang masih berkembang di masyarakat mengenai produk valas. Menurutnya, valas bukan hanya instrumen investasi atau spekulasi jangka pendek, melainkan juga alat pembayaran yang digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari di luar negeri.

Ia menambahkan, membuka rekening valas saat ini juga semakin mudah berkat digitalisasi layanan perbankan. Nasabah tidak lagi membutuhkan setoran awal dalam jumlah besar maupun proses administrasi yang rumit.

Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi global masyarakat Indonesia, perbankan pun terus menghadirkan inovasi untuk meningkatkan efisiensi transaksi. Salah satunya melalui kartu debit multicurrency dengan fitur auto-switching currency yang memungkinkan transaksi dilakukan menggunakan mata uang yang tersedia di rekening tanpa melalui proses konversi ganda (double conversion).

Teknologi tersebut dinilai dapat membantu nasabah mengurangi biaya transaksi sekaligus memberikan pengalaman bertransaksi yang lebih praktis ketika berada di luar negeri maupun saat berbelanja di platform digital internasional.

Dengan meningkatnya kebutuhan transaksi lintas negara, masyarakat diharapkan semakin memahami cara mengelola valas secara tepat. Tidak hanya memperhatikan kurs, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan, transparansi biaya, dan kemudahan layanan agar transaksi menjadi lebih efisien.

(Ade Hapsari Lestarini)