12.880 Personel Gabungan Dikerahkan Tangani Karhutla 3 Provinsi di Kalimantan

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan. Dokumentasi Kementerian Kehutanan

12.880 Personel Gabungan Dikerahkan Tangani Karhutla 3 Provinsi di Kalimantan

Whisnu Mardiansyah • 23 August 2026 18:24

Jakarta: Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan. Operasi terpadu difokuskan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sejumlah pihak yang terlibat meliputi Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, relawan, serta masyarakat.

"Operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, dengan penanganan yang disesuaikan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan," tulis Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, Jumat, 21 Agustus 2026.

Data operasi mencatat sedikitnya 12.880 personel gabungan telah dikerahkan di tiga provinsi prioritas. Sebanyak 1.410 personel bertugas di Kalimantan Barat, 10.700 personel diterjunkan di Kalimantan Tengah, sedangkan 770 personel berada di Kalimantan Selatan.
 


Operasi Darat dan Udara

Personel gabungan melakukan sejumlah kegiatan pengendalian karhutla, mulai dari pemantauan titik panas (hotspot) dan laporan masyarakat, patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, hingga pemadaman melalui jalur darat.

Penanganan juga mencakup pembasahan dan pendinginan area yang terbakar, penyekatan lokasi kebakaran, serta penjagaan di kawasan rawan untuk mencegah munculnya kembali titik api.

Koordinasi antarinstansi dilakukan melalui posko terpadu. Posko tersebut digunakan untuk menentukan lokasi yang menjadi prioritas penanganan sekaligus mengatur pengerahan personel dan peralatan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Operasi turut didukung berbagai peralatan, seperti kendaraan operasional, pompa dan pompa jinjing, selang pemadam, flexible tank, perangkat komunikasi, serta alat pelindung diri. Dukungan dari udara juga disiapkan melalui helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing.


Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (kanan). Foto: Dok. Kemenhut.


Selain menambah kekuatan personel, pemerintah memperkuat kemampuan pemadaman melalui penambahan sarana dan prasarana. Salah satu langkahnya ialah membangun dan mengaktifkan sumur bor di sejumlah wilayah prioritas.

Kementerian Kehutanan menyebut ketersediaan sumur bor diperlukan di tengah semakin terbatasnya sumber air permukaan akibat kondisi kering yang masih berlangsung.

Keberadaan sumur bor dapat digunakan untuk memperpendek jarak pengambilan air, mempercepat pengisian peralatan pemadam, serta menjaga kesinambungan proses pembasahan dan pendinginan di lokasi kebakaran.

Ketersediaan sumber air menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di kawasan lahan gambut. Karakteristik gambut memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan sehingga api dapat kembali muncul jika proses pembasahan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Karena itu, operasi di lapangan tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga dilanjutkan dengan proses pendinginan. Penguatan personel, peralatan, sumber air, dan koordinasi lintas sektor dilakukan untuk mendukung penanganan karhutla secara cepat dan berkelanjutan di wilayah prioritas Kalimantan.

(Whisnu M)