Shalter unik dari bambu karya ITB untuk korban gempa NTT. Foto: ITB
ITB Bangun Shelter Unik dari Bambu untuk Korban Gempa NTT
Muhamad Marup • 25 August 2026 18:30
Jakarta: Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun shelter unik terbuat dari bambu untuk korban gempa di Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya, shelter serupa juga dibuat ketika gempa melanda Cianjur, Jawa Barat.
Melansir situs resmi ITB, shelter dari bambu tersebut dirancang oleh desainer dan dosen SAPPK ITB, Dr.-ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T. Dosen Prodi Arsitektur itu sudah lama dikenal sebagai seorang ahli struktur bambu, beliau membuat desain shelter bambu yang dapat dibangun dengan sangat cepat dan mampu menampung banyak orang.
Pemilihan material bambu ini juga bukan tanpa alasan. Desain memanfaatkan bambu lokal sehingga dapat dibangun dengan relatif cepat sekaligus memungkinkan untuk direplikasi secara mandiri oleh masyarakat bersama BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan para relawan.
Rahasia dari cepatnya proses konstruksi ini adalah teknik pemasangan yang sederhana dan kekuatan struktur yang bergantung pada kekuatan bentuk yang menghasilkan ruang.

Pembangunan shalter unik dari bambu karya ITB untuk korban gempa NTT. Foto: ITB
Melansir situs resmi ITB, shelter dari bambu tersebut dirancang oleh desainer dan dosen SAPPK ITB, Dr.-ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T. Dosen Prodi Arsitektur itu sudah lama dikenal sebagai seorang ahli struktur bambu, beliau membuat desain shelter bambu yang dapat dibangun dengan sangat cepat dan mampu menampung banyak orang.
Pemilihan material bambu ini juga bukan tanpa alasan. Desain memanfaatkan bambu lokal sehingga dapat dibangun dengan relatif cepat sekaligus memungkinkan untuk direplikasi secara mandiri oleh masyarakat bersama BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan para relawan.
Rahasia dari cepatnya proses konstruksi ini adalah teknik pemasangan yang sederhana dan kekuatan struktur yang bergantung pada kekuatan bentuk yang menghasilkan ruang.

Pembangunan shalter unik dari bambu karya ITB untuk korban gempa NTT. Foto: ITB
Shelter di Cianjur
Dalam pemulihan pascagempa di Cianjur, Shelter bambu ini mampu menampung 50 orang lebih, dan mampu memberikan kenyamanan ruang menyeluruh yang lebih baik kepada pengungsi.
Berdasarkan standar, ukuran shelter untuk korban bencana atau mitigasi bencana yang lazim adalah 5,5 m x 12 m dengan tinggi 3,25 m. Biasanya, tenda-tenda lain menggunakan penutup berupa terpal.
Material penutup ini mengalirkan panas dari matahari ke ruang di bawahnya secara langsung. Akibatnya, dengan ketinggian yang lebih minim, tentunya pengungsi akan menerima aliran panas tersebut.
Shelter ini juga menggunakan material penutup yang sama. Namun, shelter ini mampu memberikan kenyamanan yang lebih bagi pengungsi.
Hal ini terjadi karena ketinggian minimum dari shelter ini mencapai 5 m, yang berarti paparan panas lebih tidak mengganggu ruang di bawahnya.
Hebatnya lagi, desain shelter karya dosen ITB dan tim-nya ini mampu mencapai bentang 8x12 m dan ketinggian 4-5 m. Desain shelter bambu ini mampu berdiri sampai 6 bulan.
Ke depannya, Andry dan tim telah merencanakan pengadaan workshop shelter bambu ini kepada tim-tim penyelamatan agar kian disebarluaskan ilmu ini untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Berdasarkan standar, ukuran shelter untuk korban bencana atau mitigasi bencana yang lazim adalah 5,5 m x 12 m dengan tinggi 3,25 m. Biasanya, tenda-tenda lain menggunakan penutup berupa terpal.
Material penutup ini mengalirkan panas dari matahari ke ruang di bawahnya secara langsung. Akibatnya, dengan ketinggian yang lebih minim, tentunya pengungsi akan menerima aliran panas tersebut.
Shelter ini juga menggunakan material penutup yang sama. Namun, shelter ini mampu memberikan kenyamanan yang lebih bagi pengungsi.
Hal ini terjadi karena ketinggian minimum dari shelter ini mencapai 5 m, yang berarti paparan panas lebih tidak mengganggu ruang di bawahnya.
Hebatnya lagi, desain shelter karya dosen ITB dan tim-nya ini mampu mencapai bentang 8x12 m dan ketinggian 4-5 m. Desain shelter bambu ini mampu berdiri sampai 6 bulan.
Ke depannya, Andry dan tim telah merencanakan pengadaan workshop shelter bambu ini kepada tim-tim penyelamatan agar kian disebarluaskan ilmu ini untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Asesmen Wilayah
Selain memberikan bantuan langsung dan pembangunan shelter, tim ITB melakukan asesmen terhadap kondisi wilayah terdampak gempa di NTT. Dari pengamatan lapangan, tim menemukan bahwa tingkat kerusakan akibat gempa tidak selalu berbanding lurus dengan jarak suatu wilayah dari episenter utama.
Sejumlah kerusakan berat ditemukan di pesisir utara Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur yang relatif jauh dari pusat gempa M7,7 di sekitar Mbay. Di Kecamatan Reo dan Roting, rentetan gempa susulan (aftershocks) yang terjadi ribuan kali menyebabkan warga masih harus tinggal di tenda darurat.
Rangkaian misi pada 17–21 Agustus 2026 tersebut menjadi langkah awal program ITB Peduli NTT. Data asesmen dan temuan lapangan selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan bentuk dukungan lanjutan, khususnya terkait rehabilitasi shelter, pemenuhan air bersih, serta pemulihan fasilitas publik bagi masyarakat Flores secara berkelanjutan.
Rangkaian misi pada 17–21 Agustus 2026 tersebut menjadi langkah awal program ITB Peduli NTT. Data asesmen dan temuan lapangan selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan bentuk dukungan lanjutan, khususnya terkait rehabilitasi shelter, pemenuhan air bersih, serta pemulihan fasilitas publik bagi masyarakat Flores secara berkelanjutan.