Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. (Mehr News)
Karena Insiden Kapal, Iran Pertimbangkan Serangan Balasan ke Ukraina
Riza Aslam Khaeron • 29 July 2026 15:20
Jakarta: Iran dilaporkan mempertimbangkan serangan balasan terhadap pelabuhan di Ukraina sebagai respons atas penyerangan kapal komersial miliknya. Namun, serangkaian diplomasi intensif berhasil meredakan situasi untuk saat ini, menurut laporan pejabat Iran dan Barat kepada The New York Times (NYT).
Ukraina, yang menuduh Iran dan Rusia saling mendukung operasi militer masing-masing, menyerang sebuah kapal kargo komersial milik Iran di Laut Kaspia pada Sabtu, 25 Juli 2026, yang menewaskan seorang pelaut sipil.
Beberapa sumber yang memahami informasi intelijen tersebut menyebutkan kepada NYT bahwa Iran diperkirakan akan menembakkan rudal balistik berhulu ledak kecil ke Ukraina. Langkah ini dinilai sebagai bentuk gertakan simbolis dengan tingkat kerusakan yang relatif minim.
Sementara itu, pejabat lain menduga target serangan tersebut adalah salah satu pelabuhan Ukraina di Laut Hitam.
Menurut NYT, penembakan rudal dari Iran ke Ukraina akan menjadi eskalasi dramatis yang berisiko memicu perang lebih luas, mengingat besarnya ketegangan akibat aliansi Iran dengan Rusia. Pejabat Iran berharap ketegangan dapat berakhir setelah mereka melakukan serangan balasan, tetapi pihak Barat memperingatkan bahwa respons Ukraina sulit diprediksi.
Pada Minggu, 26 Juli 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam serangan Ukraina sebagai pelanggaran terhadap Piagam PBB yang bertujuan menyeret Eropa ke dalam perang antara Iran dan Amerika Serikat. Melalui unggahan di media sosial, ia menegaskan bahwa insiden tersebut "TIDAK BISA DIABAIKAN TANPA BALASAN."
Blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia menjadikan jalur perdagangan Iran, Rusia via Laut Kaspia kian krusial. Laut Kaspia kini menjelma sebagai jalur pasokan utama bagi perdagangan terbuka maupun rahasia bagi kedua negara.
| Baca Juga: AS dan Arab Saudi Lancarkan Serangan Gabungan ke Kelompok Pro-Iran di Irak |
Ketegangan Mereda untuk Sementara

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, 28 Juli 2026. (X/@ZelenskyyUa)
Meski demikian, pada Selasa, 28 Juli 2026, setelah para diplomat Ukraina berupaya meredakan ketegangan, Araghchi melakukan pembicaraan telepon dengan Menlu Ukraina, Andrii Sybiha. Usai pembicaraan tersebut, Araghchi menyampaikan lewat unggahannya bahwa Sybiha menggambarkan serangan terhadap kapal kargo tersebut sebagai tindakan yang tidak disengaja.
"Iran juga tidak mencari eskalasi, tetapi menegaskan bahwa setiap serangan terhadap warga negara atau kepentingan kami tidak dapat diterima," tulis Araghchi.
"Harus ada ganti rugi atas kerugian (kami)," tegasnya.
Melalui laman resminya, Menlu Iran tersebut juga menyatakan telah berkomunikasi dengan Kepala Diplomat Uni Eropa, Kaja Kallas, untuk mendiskusikan "cara membantu mengurangi ketegangan di kawasan."
Kendati demikian, belum dapat dipastikan berapa lama ketegangan ini dapat dikendalikan. Pada Selasa, 28 Juli 2026, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky datang ke Washington untuk bertemu Presiden Trump sekaligus menghadiri upacara peringatan bagi Senator Lindsey Graham, politisi Carolina Selatan yang mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Zelensky berjanji akan membawa intelijen terkait dukungan Rusia terhadap Iran dalam perangnya dengan Amerika Serikat. Ukraina mengklaim bahwa Rusia telah membagikan citra satelit pangkalan militer AS di Timur Tengah kepada Iran.
Ukraina sendiri telah lama mengeluhkan penggunaan drone serta suku cadang drone buatan Iran oleh militer Rusia dalam melancarkan serangan ke wilayah Ukraina.