Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto. Dok. Istimewa
Perbaikan dan Rehab Jaringan Irigasi Pertanian Pacu Swasembada Pangan Nasional
Achmad Zulfikar Fazli • 1 January 2026 13:50
Jakarta: Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian terus memperkuat upaya pencapaian swasembada pangan nasional, khususnya beras, melalui dukungan kegiatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi pertanian. Pengelolaan air yang tepat bisa berdampak langsung pada ketahanan pangan.
Dengan perhitungan yang akurat, petani dapat memaksimalkan penggunaan air, menekan risiko kekurangan pasokan di musim kemarau, dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Ditjen LIP terus menerapkan prinsip pengelolaan irigasi pertanian yang berkelanjutan melalui koordinasi dan sinkronisasi yang intensif dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen SDA dan BBWS/BWS di daerah.
Melalui perbaikan jaringan irigasi tersier, dan koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), distribusi air ke lahan pertanian dapat dijaga dengan baik. Upaya ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional, yang ditetapkan pada 30 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Dengan adanya Inpres No. 2/ 2025, pemerintah akan mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada Daerah Irigasi (DI) yang 60% kondisinya kurang optimal dalam menyediakan air irigasi untuk persawahan," ujar Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, dalam keterangannya, Kamis, 1 Januari 2026.
| Baca Juga: |
Hermanto mengatakan perkembangan realisasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2024 pada tahap 1 yang ditargetkan sebesar 280.880 hektare mencapai realisasi 99,93 persen. Hal ini sekaligus memenuhi target yang ditetapkan.
Sementara itu, Inpres pada tahap 2 dengan target seluas 225.775 hektare, dengan capaian pengerjaan meliputi 83,46 persen pada jaringan irigasi utama; 98,66 persen pada jaringan irigasi tersier; serta 92,25 persen pada pembangunan dan rehabilitasi Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Sedangkan, Inpres pada kegiatan tahap 3, dengan target luasan mencapai 146.503 hektare dengan realisasi pelaksanaan jaringan irigasi utama mencapai 67,67 persen; realisasi pelaksanaan jaringan irigasi tersier mencapai 87,57 persen dan untuk pembangunan dan rehab JIAT mencapai 93,91 persen.
“Ini adalah hasil kerja keras dan kolaborasi bersama dengan Kementerian PU, termasuk dukungan kuat dari pemerintah daerah,” tambah Hermanto.
Sebagaimana data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,77 juta ton, meningkat 13,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh pertambahan luas panen hampir 13 persen, dengan potensi produksi padi mencapai 60,34 juta ton gabah kering giling (GKG).
Pencapaian ini menegaskan peran dan kontribusi penguatan irigasi pertanian menjadi fondasi penting dalam menyediakan air untuk pertanian sehingga pada akhirnya berpengaruh besar dalam peningkatan produksi beras untuk ketahanan pangan dan mewujudkan swasembada beras nasional secara berkelanjutan.
“Tahun ini dan Tahun-tahun berikutnya implementasi Inpres 2/2025 akan dilanjutkan yang juga diperkuat dengan kegiatan strategis lain seperti Optimasi Lahan (Opla) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR). Kegiatan-kegiatan tersebut akan terus di implementasikan di seluruh wilayah Indonesia sebagai wujud komitmen Kementerian Pertanian untuk swasembada pangan,” jelas dia.