Markas besar Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon. (Anadolu Agency)
Pentagon Disebut Siapkan Potensi Perang Lawan Iran hingga September
Riza Aslam Khaeron • 5 March 2026 17:51
Washington DC: Pentagon disebut sedang bersiap menghadapi kemungkinan perang melawan Iran yang dapat berlangsung hingga bulan September mendatang. Rencana ini terungkap di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Melansir Middle East Eye (MEE) yang mengutip laporan Politico pada Rabu, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah meminta Pentagon untuk mengerahkan lebih banyak perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida.
Penguatan personel ini dirancang untuk mendukung operasi militer melawan Iran setidaknya selama 100 hari hingga kemungkinan besar berlangsung sampai September 2026.
Laporan yang dipublikasikan pada Kamis, 5 Maret 2026 ini mengungkapkan bahwa permintaan tersebut merupakan langkah pertama dari administrasi Trump untuk menambah personel intelijen selama perang berlangsung.
Hal ini menandakan bahwa Washington tengah bersiap untuk kampanye militer yang jauh lebih panjang daripada yang disampaikan kepada publik pada awalnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut kampanye militer mungkin berlangsung empat hingga lima minggu, namun ia memperingatkan bahwa perang bisa "berlangsung jauh lebih lama dari itu."
Upaya cepat untuk memobilisasi lebih banyak personel dan sumber daya ini, menurut Politico, menunjukkan betapa tidak siapnya Washington menghadapi skala konflik yang diluncurkan bersama Israel.
"Operasi militer sebesar ini biasanya direncanakan berbulan-bulan sebelumnya, namun kepanikan mendadak di Pentagon menunjukkan para pejabat meremehkan dampak dari serangan terhadap Iran," tulis Politico.
| Baca Juga: Perang Iran Diestimasi Makan Biaya Rp1 Triliun Anggaran AS Per Hari |
Laporan Politico pada 25 Februari lalu mengungkapkan bahwa para penasihat senior Trump lebih memilih Israel menyerang Iran terlebih dahulu sebelum AS melancarkan serangannya sendiri. Skenario itu akhirnya terwujud, menyeret Washington langsung ke dalam perang.
Mengutip pernyataan dari Bulan Sabit Merah Iran, serangan gabungan Israel-AS sejauh ini telah menewaskan setidaknya 1.000 orang dan melukai ratusan lainnya. Di antara korban tewas, lebih dari 165 orang—yang sebagian besar adalah anak-anak—gugur dalam serangan "double-tap" di sebuah sekolah dasar.
Sementara itu, CENTCOM mengonfirmasi pada Senin bahwa enam personel militer AS tewas di Kuwait menyusul serangan balasan Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mengakui bahwa langkah Israel memaksa Washington untuk turun tangan.
"Kami tahu akan ada aksi Israel. Kami tahu bahwa itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu jika kami tidak menyerang mereka secara pre-emptif sebelum mereka meluncurkan serangan itu, kami akan menderita korban yang lebih tinggi," jelas Rubio.
Pada Selasa, 3 Maret 2026, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mencoba memberikan klarifikasi atas pernyataannya tersebut.
Rubio menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump memang sudah memutuskan untuk menyerang Iran, dan dia hanya menjelaskan alasan mengapa keputusan tersebut diambil pada hari tersebut.
"Saya sudah katakan kepada Anda bahwa ini memang harus terjadi, presiden telah membuat keputusan," ujar Rubio kepada wartawan.
"Keputusan yang beliau ambil adalah bahwa Iran tidak akan dibiarkan bersembunyi di balik program rudal balistiknya, dan Iran tidak akan dibiarkan bersembunyi di balik kemampuannya untuk melakukan serangan-serangan ini," tambahnya.