Bawa Pesan Solidaritas, Suara Andrea Bocelli Bakal Menggema di Borobudur

Andrea Bocelli akan menggelar Romanza 30th Anniversary World Tour, Dok: Instagram

Bawa Pesan Solidaritas, Suara Andrea Bocelli Bakal Menggema di Borobudur

Whisnu Mardiansyah • 31 October 2026 19:18

Magelang: Kehilangan penglihatan sejak usia muda tidak menghentikan perjalanan Andrea Bocelli dalam dunia musik. Selama lebih dari tiga dekade, penyanyi tenor asal Italia itu justru dikenal melalui suara yang menjangkau jutaan pendengar di berbagai negara. Di balik keberhasilannya di panggung internasional, Bocelli juga membawa perhatian pada isu pendidikan dan kemanusiaan.

Lahir di Lajatico, Tuscany, Italia, pada 22 September 1958, Bocelli mengalami gangguan penglihatan akibat glaukoma sejak kecil. Ketika berusia 12 tahun, kecelakaan saat bermain sepak bola membuatnya kehilangan penglihatan sepenuhnya.

Keterbatasan tersebut tidak memutus langkahnya untuk menekuni musik. Dari kota kecil di wilayah Tuscany, Bocelli membangun perjalanan karier hingga tampil di berbagai panggung dunia dan dikenal sebagai salah satu tenor ternama.

Sejumlah lagu seperti Con te partirò, Time to Say Goodbye, dan The Prayer menjadi bagian penting dalam perjalanan bermusiknya. Karya-karya tersebut dikenal luas dan mengangkat tema cinta, perpisahan, doa, kehilangan, hingga harapan.

Lagu The Prayer, yang dibawakannya bersama Céline Dion, juga menghadirkan pesan tentang doa, kedamaian, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, aktivitas Bocelli tidak hanya berkutat pada pertunjukan musik. Ia turut mengembangkan kegiatan sosial melalui Andrea Bocelli Foundation (ABF), yayasan yang didirikannya bersama keluarga pada 2011.
 


Musik Sebagai Sarana Pemberdayaan

Andrea Bocelli Foundation berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, musik, dan berbagai program sosial. Perhatian yayasan tersebut terutama ditujukan kepada anak-anak dan komunitas yang berada dalam kondisi rentan.

Melalui ABF, Bocelli turut mendukung pembangunan kembali sekolah-sekolah yang rusak akibat gempa bumi di Italia. Yayasan itu juga menjalankan sejumlah program di Haiti untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak serta membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses air bersih dan layanan kesehatan.

Bagi Bocelli, musik tidak hanya menjadi karya seni yang dinikmati pendengar. Melalui kegiatan yayasan, musik juga dimanfaatkan sebagai salah satu sarana pendidikan dan pemberdayaan.

Perhatian terhadap anak-anak yang hidup di tengah konflik turut menjadi bagian dari kegiatan sosial ABF. Melalui program ABF Voices of Jerusalem, yayasan tersebut mendukung pendidikan musik, pengembangan keterampilan sosial dan emosional, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak dan generasi muda dari Betlehem dan Yerusalem Timur.

Program tersebut menyediakan ruang bagi anak-anak untuk belajar musik sekaligus mengembangkan kemampuan sosial dan emosional. Kegiatan ini menyasar generasi muda yang hidup di lingkungan dengan situasi kemanusiaan yang tidak mudah.

Pada 2019, Bocelli juga tampil bersama penyanyi sopran Palestina, Zeina Barhoum, dalam kegiatan penggalangan dana. Acara tersebut berhasil menghimpun dana hampir 760 ribu poundsterling untuk mendukung program pendidikan.

Berbagai kegiatan itu memperlihatkan keterlibatan Bocelli dalam upaya menghubungkan dunia seni dengan program sosial. Musik menjadi salah satu medium untuk memperluas akses pendidikan dan mendukung masyarakat yang membutuhkan perhatian.

 


Misi kemanusiaan dari Panggung Borobudur

Semangat kepedulian tersebut turut mewarnai konser Andrea Bocelli dalam rangkaian Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026.

Konser tersebut menjadi bagian dari perayaan 30 tahun album Romanza. Selain menghadirkan pertunjukan musik, rangkaian acara di Indonesia juga diisi inisiatif penggalangan dana untuk mendukung anak-anak yang terdampak konflik.

Promotor Shoemaker Live menginisiasi penggalangan dana dengan target penyaluran 100.000 pasang sepatu bagi anak-anak Palestina dan anak-anak di negara lain yang terdampak konflik.

Bantuan berupa sepatu menjadi salah satu bentuk dukungan yang ditujukan bagi anak-anak di wilayah terdampak. Kebutuhan sederhana seperti alas kaki dapat membantu menunjang aktivitas sehari-hari, termasuk ketika mereka harus berjalan menuju sekolah atau menjalani kegiatan lainnya.

Inisiatif tersebut menghadirkan dimensi sosial dalam rangkaian konser Bocelli di Indonesia. Pertunjukan musik tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengajak masyarakat memberikan perhatian kepada anak-anak yang menghadapi situasi sulit.


Andrea Bocelli akan membawa perayaan 30 tahun album Romanza ke Indonesia melalui dua pertunjukan pada 31 Oktober dan 3 November 2026. (Foto: Ist)

"Kami memahami bahwa bagi banyak orang, konser ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pertunjukan musik. Ada kepedulian mendalam terhadap mereka yang harus menghadapi konflik dan kehilangan. Kami mendengarkan setiap pandangan tersebut dengan hati terbuka," kata Founder Shoemaker Live Prajna Murdaya.

Setelah tampil di kawasan Candi Borobudur, rangkaian Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia dijadwalkan berlanjut di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.

Penampilan Bocelli di Borobudur menghadirkan pertemuan antara perjalanan seorang musisi dengan salah satu situs warisan budaya dunia. Dari panggung tersebut, suaranya kembali menjangkau penonton melalui karya-karya yang telah dikenal lintas generasi.

Perjalanan hidup Bocelli juga memperlihatkan bagaimana ia terus berkarya setelah kehilangan penglihatan pada usia 12 tahun. Musik menjadi ruang baginya untuk mengekspresikan diri sekaligus membangun hubungan dengan pendengar dari berbagai latar belakang.

Di luar panggung, keterlibatannya melalui Andrea Bocelli Foundation memperluas kontribusi tersebut ke bidang pendidikan dan kegiatan sosial. Program-program yang dijalankan yayasan menunjukkan perhatian terhadap anak-anak dan masyarakat yang membutuhkan dukungan.

Melalui musik dan kegiatan kemanusiaan, Bocelli membawa pesan tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama. Sebuah pertunjukan mungkin berakhir ketika nada terakhir dimainkan, tetapi kontribusi sosial yang menyertainya dapat terus memberi manfaat bagi penerima bantuan.

(Whisnu M)