Kerusuhan di Milan, Italia. Foto: Dok. Andolu Agency
Apa Penyebab Kerusuhan di Milan? Simak Kronologinya
Angel Rinella • 21 October 2026 07:55
Milan: Kerusuhan kembali terjadi di Milan, Italia, setelah sekelompok pemuda merusak dan menjarah toko di kawasan Piazza del Duomo. Aksi ini menyusul demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup yang berujung bentrokan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Dilansir La Repubblica, sedikitnya 2.000 pemuda terlibat dalam kerusuhan tersebut. Mereka memecahkan etalase menggunakan tempat sampah, kursi, dan sepeda listrik sebelum menjarah sejumlah toko.
Aksi ini terjadi di tengah keluhan masyarakat terhadap tingginya harga kebutuhan, upah yang stagnan, dan sulitnya mendapatkan hunian terjangkau. Menurut asosiasi pengusaha Italia, Unimpresa, kerusuhan tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar 1,3 juta euro atau Rp26,3 miliar.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut dan menyatakan dukungan kepada polisi. Aparat juga menambah personel untuk mengantisipasi bentrokan lanjutan di pusat kota.
“Berdemonstrasi adalah hak, tetapi membakar kota-kota kita bukanlah hak,” kata Meloni dilansir dari Deutsche Welle (DW), Selasa, 20 Oktober 2026.
Apa Penyebab Kerusuhan di Italia?
Kerusuhan bermula dari demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup yang berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Warga menyuarakan keberatan terhadap mahalnya harga kebutuhan, upah yang tidak mengalami peningkatan berarti, serta sulitnya mendapatkan tempat tinggal dengan harga terjangkau.
Dilansir dari ANSA, bentrokan antara demonstran dan polisi terjadi di Milan saat aksi protes berlangsung. Sedikitnya empat polisi dan 20 demonstran dilaporkan terluka setelah sejumlah pemuda berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah melemparkan kembang api serta botol ke arah polisi.
Mereka juga mendirikan barikade di kawasan Piazza del Duomo, pusat Kota Milan, sehingga polisi harus mengambil langkah untuk mengendalikan situasi.
Polisi sempat mundur untuk menunggu bantuan personel tambahan sebelum menggunakan gas air mata guna membubarkan massa. Menurut laporan ANSA, sekitar 50 pemuda ditangkap dalam rangkaian kejadian tersebut, dengan sekitar setengahnya masih berusia di bawah umur.
Bentrokan juga terjadi di Turin, Bologna, dan Bergamo. Di Bologna, polisi menggunakan meriam air dan menangkap empat orang yang seluruhnya masih di bawah umur, sementara tujuh orang dilaporkan kepada kejaksaan.
Berapa Banyak Korban dan Kerugian Akibat Kerusuhan?
Kerusuhan tersebut menimbulkan korban luka dari kalangan aparat maupun demonstran. Selain empat polisi dan 20 demonstran yang dilaporkan terluka dalam bentrokan di Milan, laporan lain menyebutkan 141 petugas penegak hukum mengalami luka akibat rangkaian bentrokan.
Jumlah penangkapan juga dilaporkan berbeda dalam sejumlah laporan. Sebanyak 28 orang disebut telah ditangkap, termasuk 12 anak di bawah umur dan enam warga negara asing, sedangkan ANSA sebelumnya melaporkan sekitar 50 pemuda ditangkap dalam kejadian di Milan.
Kerusakan toko dan fasilitas di kawasan pusat kota turut menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha. Unimpresa memperkirakan nilai kerugian akibat kerusuhan mencapai 1,3 juta euro atau sekitar Rp26,3 miliar.
Untuk mengantisipasi bentrokan lanjutan, polisi menambah personel di kawasan Piazza del Duomo. Mobil patroli dan petugas keamanan disiagakan, sementara kendaraan meriam air dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kerusuhan lebih besar.
Baca Juga :
Buka Jakarta Film Summit 2026, Gubernur Pramono Dorong Jakarta Jadi Pusat Perfilman Asia Tenggara
Bagaimana Respons Pemerintah Italia?
Perdana Menteri Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan yang terjadi selama demonstrasi pada Minggu, 18 Oktober 2026. Ia menilai sejumlah pelaku memanfaatkan aksi protes untuk memicu konfrontasi dan menciptakan kekacauan.
Meloni menyampaikan solidaritas kepada polisi yang menghadapi bentrokan di sejumlah kota. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat tidak membenarkan tindakan yang membahayakan masyarakat maupun merusak fasilitas umum.
“Berdemonstrasi adalah hak, tetapi membakar kota-kota kita bukanlah hak,” kata Meloni.
Selain itu, Wali Kota Milan Giuseppe Sala turut mengecam kekerasan tersebut, meski mengakui adanya persoalan yang mendorong masyarakat turun ke jalan. Menurutnya, tuntutan demonstran dapat dipahami, tetapi tindakan menyerang polisi dan merusak kota tidak dapat dibenarkan.
“Alasan di balik protes tersebut dapat dipahami. Namun, kekerasan terhadap polisi dan kerusakan serius terhadap kota tidak dapat dibenarkan,” ujar Sala.