Rosatom dan PT Pembangkit Listrik Nuklir menyepakati proyek pembangkit nuklir terapung berkapasitas 200 MW. (Atom Media)
Indonesia-Rusia Sepakati Proyek PLTN Terapung 200 MW di Maluku Utara
Willy Haryono • 17 October 2026 12:59
Moskow: Perusahaan negara Rusia di bidang energi nuklir, Rosatom, dan perusahaan milik nasional Indonesia, PT Pembangkit Listrik Nuklir, menyepakati kerja sama pasokan listrik dari pembangkit nuklir terapung untuk konsumen di Maluku Utara, yang telah ditandatangani di sela-sela Russian Energy Week di Moskow, Rusia pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Dalam proyek ini, Rosatom akan mengerahkan dua unit Floating Power Unit (FPU) FPU-100 dengan kapasitas gabungan 200 megawatt (MW). Kedua unit tersebut direncanakan memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Pembangkit itu akan menggunakan sistem reaktor seri RITM yang dirancang untuk menghasilkan listrik rendah karbon. Menurut Rosatom, reaktor seri tersebut telah menunjukkan efisiensi, keandalan, dan keselamatan melalui pengoperasiannya selama bertahun-tahun di kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia.
Rosatom memperkirakan pasokan listrik pertama dari kedua unit tersebut dapat dimulai paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik berlaku efektif.
Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev mengatakan kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam kerja sama energi Rusia dan Indonesia. Ia menyebut proyek tersebut sebagai kesepakatan ekspor pertama di dunia untuk pasokan listrik dari pembangkit nuklir terapung.
“Rosatom siap menawarkan solusi teknologi paling maju dan teruji yang tersedia di pasar global. Kami membahas lebih dari sekadar pasokan listrik. Kami sedang meletakkan fondasi bagi kemitraan jangka panjang,” kata Likhachev, dalam keterangan di siaran pers Atom Media.
Menurut dia, kerja sama tersebut juga mencerminkan upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi dan mencapai netralitas karbon.
Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir Yudi Utomo Imardjoko mengatakan proyek tersebut ditujukan untuk mendukung transisi energi Indonesia sekaligus memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, terutama di kawasan Indonesia timur.
Ia menegaskan proyek itu sepenuhnya menggunakan skema bisnis-ke-bisnis (business-to-business atau B2B) melalui investasi swasta, tanpa bergantung pada pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Penyediaan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat merupakan hal penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang,” ujar Yudi.
Investor PT Pembangkit Listrik Nuklir, Haji Romo Nitiyudo Wachjo, mengatakan kesepakatan tersebut menjadi langkah awal bagi pengembangan energi di Maluku Utara dan kawasan Indonesia timur.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, delegasi Rusia, dan Rosatom atas kerja sama tersebut. Nitiyudo juga berterima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya dan Yudi untuk membawa proyek pembangkit nuklir berkapasitas 200 MW ke Halmahera Utara.
Kerja Sama Nuklir Indonesia-Rusia
Menurut keterangan Rosatom, pemerintah Indonesia memasukkan tenaga nuklir ke dalam rencana energi nasional pada 2025 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang dan mencapai netralitas karbon pada 2060.Ketertarikan Indonesia terhadap kerja sama dengan Rosatom sebelumnya disampaikan Prabowo Subianto ketika masih menjabat Menteri Pertahanan sekaligus presiden terpilih. Pada 31 Juli 2024, Prabowo mengunjungi Moskow dan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin.
Pada Mei 2026, Likhachev juga bertemu dengan Presiden Prabowo untuk membahas peluang kerja sama dalam pemanfaatan energi nuklir secara damai. Pembahasan mencakup pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir, pembangunan infrastruktur nuklir, pelatihan tenaga ahli, serta pemanfaatan teknologi nuklir di luar sektor energi.
Rosatom mengusulkan pengembangan tenaga nuklir di Indonesia melalui dua tahap. Tahap pertama mencakup pengerahan pembangkit nuklir terapung berskala kecil, sedangkan tahap kedua direncanakan berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di darat dengan reaktor berkapasitas besar.
Teknologi Pembangkit Nuklir Terapung
Rosatom menyebut pembangkit nuklir terapung berpotensi memenuhi kebutuhan listrik di kawasan pesisir terpencil yang menghadapi keterbatasan pasokan energi. Unit tersebut dirancang untuk memasok listrik secara berkelanjutan selama beberapa dekade, tanpa bergantung pada kondisi cuaca.Sebagai bagian dari pengembangan teknologi tersebut, Rosatom telah mengoperasikan Akademik Lomonosov, pembangkit listrik tenaga nuklir terapung pertama di dunia, di Chukotka, Rusia, sejak 2020. Fasilitas tersebut menggunakan dua reaktor KLT-40S dan telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam listrik sejak mulai beroperasi.
Untuk pasar internasional, Rosatom mengembangkan FPU-100 yang dilengkapi reaktor RITM-200M dan disesuaikan untuk beroperasi di iklim hangat. Setiap unit dirancang memiliki kapasitas pembangkitan listrik 100 MW.
Rosatom juga sedang membangun pembangkit nuklir berskala kecil pertamanya yang berorientasi ekspor di Uzbekistan, menggunakan reaktor RITM-200N. Selain itu, perusahaan tersebut membangun serangkaian unit FPU-106 dengan reaktor RITM-200S untuk memasok listrik ke kawasan industri pertambangan tembaga di wilayah otonom Chukotka, Rusia.
Secara keseluruhan, Rosatom menyatakan sedang membangun 27 pembangkit listrik tenaga nuklir di sembilan negara. Perusahaan tersebut mengklaim menjadi pemimpin global berdasarkan jumlah proyek pembangunan pembangkit nuklir yang tengah berlangsung di luar Rusia.
Baca juga: Rusia-Kanada Tawarkan Kerja Sama Nuklir dengan Indonesia