Chief Investment Office (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Pandu Sjahrir. MTVN/ Duta
Kejar Vietnam Punya Kawasan Industri 1 Juta Hektare, Ini Kata Danantara
Ade Hapsari Lestarini • 16 October 2025 17:42
Jakarta: Chief Investment Office (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Pandu Sjahrir menyambut baik gagasan menciptakan satu juta hektare (ha) kawasan industri layaknya Vietnam. Pandu menilai hal ini merupakan kompetisi sehat yang bernilai positif.
"Ya itu bagus, tadi ada yang sebut soal Vietnam itu sebagai suatu perbandingan. Kompetisi itu menurut saya positif," ucap Pandu saat menghadiri forum bertajuk "1 Tahun Prabowo-Gibran: Optimism on 8% Economic Growth" di JS Luwansa Hotel & Convention Center, Jakarta pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Lebih lanjut, Pandu mengatakan hal tersebut dapat diwujudkan apabila pemerintah mampu menyakinkan para investor di Indonesia.
"Tugas kami bagaimana menggerakkan kepercayaan diri kepada investment di Indonesia, baik dari sisi sektor real serta sektor pasar modal," tutur Pandu.
Indonesia masih tertinggal dari Vietnam
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu sebelumnya mengatakan Pemerintah menilai konsistensi kebijakan menjadi faktor penting dalam menarik minat investasi asing ke Indonesia.Pemerintah juga menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan terus diarahkan untuk mendukung Asta Cita serta delapan program prioritas nasional.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu
Mari Elka menyoroti, meskipun infrastruktur Indonesia telah banyak berkembang, Indonesia masih tertinggal dari Vietnam dalam hal kemampuan menarik investasi dan memperdalam rantai pasok industri. Kondisi ini menandakan perlunya reformasi kebijakan yang lebih konsisten dan implementatif agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
"Selama satu tahun terakhir, Vietnam berhasil menarik investasi cukup banyak dan memperdalam supply chain-nya. Mereka mampu menarik anchor company seperti Intel maupun perusahaan Tiongkok yang membawa rantai pasoknya. Itu yang sampai sekarang belum berhasil kita capai,” kata Mari Elka. (Alfiah Ziha Rahmatul Laili)