Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.
Sangsaya dalu araras
abyor kang lintang kumedhap
tistis sonya tengah wengi
lumrang gandane puspita
karenghyan ing pudyanira
sang dwijawara mbrengengeng
lir swarane madubranta
manungsung sarining kembang'.
(Malam semakin indah. Memancar cahaya bintang bekerlipan. Dingin dan sunyi senyap tengah malam. Semerbak bau harum bunga. Berbarengan dengan suara doa. Terdengar gemeremang doa dilantunkan para pendeta agung. Seperti suara dengung lebah menjemput sari bunga.)
KI Anom Suroto selalu mendendangkan suluk (penanda bagian cerita wayang kulit) bernama Pathet Sanga Wantah itu dengan suara menyentuh. Ia memang legenda, seorang maestro. Ia dalang wayang kulit dengan kemampuan suara tak tertandingi. Saat suluk, salah satu tembang pemisah babak cerita, pecinta wayang kulit menyebut suaranya kung: panjang, meliuk-liuk, menyentuh, kadang menyayat. Pokoknya, nadanya sedap betul. Orang bisa 'meleleh' saat mendengar Ki Anom bersuluk.
Selain suara, Ki Anom dikenal dengan humornya dalam melakonkan wayang, yang dalam istilah komedian Indro Warkop disebut humor level 'kompor gas'. Bukan hanya punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang 'dibuat' lucu. Atau, sosok Limbuk dan Cangik, asisten para raja. Di tangan Ki Anom, sosok Bima yang serius pun bisa 'dihumorkan'. Apalagi dengan Dursasana dan Sengkuni.
Di tangan Ki Anom, keculasan Sengkuni, misalnya, mampu dihidupkan dengan kekuatan penuh. Tak jarang para penyimak wayang kulit yang menyaksikan pertunjukan Ki Anom secara langsung, berteriak, 'huuuuuu...' karena geram terhadap Sengkuni. Atau, di bagian lain, penonton bertempik sorak saat Dursasana secara kritis mengingatkan Sengkuni agar segera bertobat, berhenti mengadu domba, tidak lagi korupsi.
Pendek kata, Ki Anom ialah transformasi wayang kulit setelah sang maestro yang juga gurunya, Ki Narto Sabdo, berpulang duluan. Ki Narto Sabdo sangat kuat dalam dialog tokoh-tokoh wayang, punya kemampuan filosofis dan paramasastra tingkat tinggi, serta ahli menciptakan tembang (misalnya
Perahu Layar dan
Swara Suling). Namun, Ki Narto Sabdo tetap setia pada pakem. Itu berbeda jika dibandingkan dengan Ki Anom Suroto yang berani melakukan sejumlah 'penyesuaian'.
Ki Anom juga memasukkan unsur kritik dalam tradisi
pakeliran. Dalam monolog pengantar
goro-goro, ia masukkan kritik tentang polah pejabat yang bukan melayani rakyat, melainkan berburu rente untuk kepentingan pribadi. Di 'sesi' monolog itu pula, ia kerap menukil pendapat pujangga Ronggowarsito tentang
Zaman Edan.
Karena itulah, pertunjukan wayang kulit menjadi kian hidup. Para penikmat wayang Ki Anom Suroto sudah paham, begitu usai suluk
Pathet Sanga Wantah dilantunkan, penonton sudah siap menyambut monolog pengantar
goro-goro itu. Penonton selalu bertepuk tangan saat Ki Anom menyampaikan monolog kritis itu, sebagai tanda setuju.
Ki Anom Suroto, foto: Instagram @anomsuroto48.
Lalu, kapan monolog kritis itu dimasukkan Ki Anom? Sepanjang pengetahuan saya, tidak sejak mula pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu 'mendaraskan' suara kritis dalam monolog. Mungkin baru pada 1994-an ia melakukan itu, saat Ki Anom di puncak kejayaan.
Saya mulai 'mengenal' Ki Anom Suroto lewat kaset produksi 1978. Bapak saya membeli seri kaset Ki Anom Suroto dengan lakon
Parikesit Jumeneng Nata itu. Ada delapan kaset dalam cerita itu, dengan total durasi hampir 8 jam. Cerita
Parikesit Jumeneng Nata mengisahkan pengangkatan Parikesit sebagai Raja Hastinapura setelah Perang Baratayuda selesai dan Pandawa mundur. Parikesit, cucu Arjuna dari putra Abimanyu, diangkat menjadi raja baru karena ia satu-satunya keturunan Pandawa yang tersisa.
Lakon itu mengajarkan regenerasi kepemimpinan, tanggung jawab, dan pentingnya membangun kembali kerajaan yang porak-poranda akibat perang. Di sampul kaset itu, ada foto Ki Anom tampak punggung dengan rambut masih gondrong. Belum ada monolog kritis di awal-awal rekaman maupun pentas wayang kulit dari Ki Anom.
Dari persinggungan awal itu, saya sudah melihat kemampuan Ki Anom dalam suluk,
catur, dan humor.
Catur terkait dengan kemampuan deskripsi, narasi, dan dialog dalam wayang. Dari tiga hal itulah, Ki Anom diakui kehebatannya. Sampai sekarang, Ki Anom masih menjadi kiblat bagi dalang-dalang muda, selain tentunya sang maestro Ki Narto Sabdo. Ia juga jadi kiblat gaya mendalang putranya, Ki Bayu Aji.
Membandingkan Ki Anom Suroto dengan Ki Narto Sabdo sama seperti membandingkan Lionel Messi dengan Cristiano Ronaldo: sama-sama hebat dan bertahan lama sebagai legenda. Dalam wawancara dengan media pada 1984, Ki Anom mengaku frekuensi pentasnya bisa mencapai 28 kali dalam sebulan, melampaui semua dalang di era itu. Padahal, waktu itu usianya masih 36 tahun. Ia merasa, terlalu sering pentas bisa membuat orang jenuh. Karena itu, Ki Anom pun mulai membatasi maksimal 15 kali pentas dalam sebulan. Itu pun dalam bulan-bulan baik menurut kalender Jawa.
Pada Kamis, 23 Oktober 2025, pemilik nama panjang Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro atau Ki Anom Suroto itu mengakhiri suluknya untuk selama-lamanya. Ia berpulang di usia 77 tahun (lahir 11 Agustus 1948), meninggalkan jejak amat tebal dan sangat penting dalam dunia pewayangan. Kini, putranya, Ki Bayu Aji, menjadi penerus Ki Anom dengan kemampuan yang nyaris serupa, tapi memiliki keterampilan sabetan melampaui ayahandanya.
Seperti kisah
Parikesit Jumeneng Nata, Ki Anom Suroto sudah menyiapkan regenerasi dalang secara paripurna kepada Ki Bayu Aji, termasuk regenerasi suluk yang nges dan menyayat hati. Itu seperti dalam suluk dukacita berikut ini.
'Surem-surem diwangkara kingkin,
lir mangaswa kang layon,
dennya ilang memanise,
wadanira layu,
kumel kucem rahnya meratani,
marang saliranipun,
melas dening ludira kawangwang
nggana bang sumirat'.
(Suram cahaya surya bersedih. Seperti menghidu lelayu yang hilang kemanisannya. Kumal pucat wajahnya layu, darah merata membiru di sekujur tubuh itu. Angkasa berduka, lihatlah langit semburat merah). Sugeng tindak, selamat jalan Ki Anom Suroto.