Sejarah Jalur Rel Kereta Api Pertama di Indonesia

Pembangunan jembatan kereta api di atas sungai dekat Banyuwangi. Dok. Wikipedia

Sejarah Jalur Rel Kereta Api Pertama di Indonesia

Achmad Zulfikar Fazli • 15 September 2026 11:46

Jakarta: Kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang banyak diminati masyarakat dalam bepergian jarak jauh maupun dalam kota. Jalur kereta api ternyata sudah dibangun sejak zaman Hindia Belanda.

Dikutip dari berbagai sumber, jalur rel kereta api pertama di Indonesia mulai dibangun di Desa Kemijen, Semarang, Jawa Tengah, pada 17 Juni 1864. Peletakan batu pertama atau pencangkulan pertama pembangunan jalur kereta api di desa Kemijen, dilakukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.

Pembangunan jalur kereta ini diprakarsai Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang dipimpin Ir. J.P de Bordes dari Kemijen. Jalur kereta ini sepasang 26 kilometer (km) dari Semarang menuju desa Tanggung dengan lebar sepur (jarak antar kereta) 1435 mm.

Tujuan utama pembuatan rel adalah membawa hasil perkebunan dan pertanian (seperti gula dan kopi) dari daerah pedalaman ke pelabuhan agar cepat dikirim ke Eropa. Kemudian, ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada Sabtu, 10 Agustus 1867.

Pengembangan Jalur Kereta

Pembangunan jalur kereta api antara Stasiun Samarang-Tanggung, kemudian dikembangkan dengan menghubungkan Kota Semarang - Surakarta (110 KM) pada 10 Februari 1870. Keberhasilan ini mendorong minat investor membangun jalur kereta api di daerah lain.

Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jalur kereta api negara melalui perusahaan bernama Staatssporwegen (SS) pada 8 April 1875. Rute pertama yang dikerjakan, yakni Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NISM dan SS mendorong investor swasta membangun jalur kereta api lain.

Alhasil, jalur kereta api bertumbuh pesat antara 1864-1900. Pada 1867, panjang rel kereta api baru mencapai 25 KM, meningkat menjadi 110 KM pada 1870, 405 KM pada 1880, 1.427 KM pada 1890, dan 3.338 KM pada 1900.
 


Selain di Jawa, pembangunan jalur kereta api juga dilakukan di Aceh pada 1874, Sumatra Utara pada 1886, Sumatra Barat pada 1891, Sumatra Selatan pada 1914, bahkan pada 1922 di Sulawesi telah dibangun jalan kereta api sepanjang 47 KM dari Makasar-Takalar. Pengoperasiannya dilakukan pada 1 Juli 1923, sedangkan sisanya Ujungpandang-Maros belum sempat diselesaikan.

Bangunan Stasiun Tanggung. (Dokumentasi/ Istimewa)

Di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak-Sambas sepanjang 220 KM sudah diselesaikan. Demikian juga di Pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api.

Sampai dengan 1939, panjang jalan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 KM. Namun, pada 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 KM. Kurang lebih 901 KM jalur kereta api hilang karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan kereta api di sana.

Jenis jalan rel KA di Indonesia dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm di Aceh dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar semasa pendudukan Jepang pada 1942-1943 sepanjang 473 km, sedangkan jalan kereta api yang dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 KM antara Bayah - Cikara dan 220 KM antara Muaro-Pekanbaru.

Pembangunan Jaringan

Pembangunan tahap I jaringan kereta api dilakukan pada 1876-1888. Awal pembangunan antara Tanggung dan Gudang di Semarang pada 1876 sepanjang 26 KM.

Setelah itu mulai dibangun lintas Semarang-Gudang. Pada 1880 dibangun lintas Batavia (Jakarta)-Buitenzorg (Bogor) sepanjang 59 KM, kemudian dilanjutkan ke Cicalengka melalui Cicurug-Sukabumi-Cibeber-Cianjur-Bandung. Pada 1877 dibangun lintas Kediri-Blitar, dan digabungkan dengan lintas Surabaya-Cilacap lewat Kertosono-Madiun-Solo, dan lintas Yogyakarta-Magelang.

Hingga 1888 jaringan rel terbangun adalah:

Batavia - Buittenzorg (Bogor) - Sukabumi - Bandung - Cicalengka

Batavia - Tanjung Priok dan Batavia - Bekasi

Cilacap - Kutoarjo - Yogya - Solo - Madiun - Sidoarjo - Surabaya

Kertosono - Kediri - Blitar Sidoarjo - Malang dan Bangil - Pasuruan - Probolinggo

Solo - Purwodadi - Semarang dan Semarang - Rembang Tegal - Balapulang

Hingga 1899 jaringan rel terbangun adalah:

Djogdja - Tjilatjap

Madioen - Solo

Sidoardjo - Modjokerto

Modjokerto - Kertosono

Kertosono - Blitar

Kertosono - Madioen - Solo

Buitenzorg (Bogor) - Tjitjalengka

Batavia - Rangkasbitung

Bekasi - Krawang

Cicalengka - Cibatu (Garut) - Tasikmalaya - Maos - Banjarnegara

Cirebon - Semarang dan Semarang - Blora

Yogya - Magelang Blitar - Malang dan Krian - Surabaya

Sebagian jalur Madura

Hingga 1913 jaringan rel terbangun adalah:

Rangkasbitung - Labuan dan Rangkasbitung - Anyer

Krawang - Cirebon dan Cikampek - Bandung

Pasuruan - Banyuwangi

Seluruh jaringan Madura

Blora - Bojonegoro - Surabaya

Hingga 1925 jaringan rel terbangun adalah:

Sisa jalur Pulau Jawa

Elektrifikasi Jatinegara - Tanjung Priok

Elektrifikasi Batavia - Bogor:

Sumatra Selatan: Panjang - Palembang

Sumatra Barat: sekitar Sawahlunto dan Padang

Sumatra Utara: Tanjung Balai - Medan - Pematangsiantar; dan Medan - Belawan - Pangkalan Susu

Sulawesi: Makasar - Takalar dan rencana Makasar - Maros - Sinkang

Sulawesi Utara: rencana Manado - Amurang

Kalimantan: rencana Banjarmasin - Amuntai; dan rencana Pontianak - Sambas.

Untuk Kalimantan dan Sulawesi tidak terlaksana karena baru akan dimulai dibangun 1941 dan Perang Dunia II meletus.

(Achmad Zulfikar Fazli)