Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
Menjaga Tradisi Intelektual Kampus Melalui Dialog dan Argumentasi yang Sehat
Deny Irwanto • 17 June 2026 23:45
Jakarta: Peristiwa penghentian forum diskusi Kopdar Bareng Mas Dar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu memunculkan kembali perbincangan mengenai pentingnya budaya dialog dalam kehidupan demokrasi.
Bagi banyak kalangan, kampus selama ini dikenal sebagai ruang bertemunya beragam gagasan, pandangan, dan kritik yang disampaikan melalui diskusi terbuka. Perbedaan pendapat yang muncul di ruang akademik dinilai menjadi bagian penting dari proses pembelajaran sekaligus penguatan demokrasi yang sehat.
Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) DKI Jakarta, Asip Irama, menilai dialog tetap menjadi sarana paling efektif untuk menyampaikan aspirasi kepada para pemangku kebijakan.
"Forum itu adalah ruang dialog yang sah, berizin, dan terbuka. Membubarkannya secara paksa bukan tindakan demokrasi. Itu tindakan yang justru membunuh demokrasi atas nama demokrasi. Ini kontradiksi yang berbahaya," kata Asip dalam keterangan pers dikutip, Rabu, 17 Juni 2026.
Dalam konteks tersebut, keberadaan forum diskusi menjadi ruang penting untuk mempertemukan pandangan yang berbeda agar dapat saling memahami dan mencari solusi bersama.
Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
"Jika mahasiswa yakin argumennya kuat, duduklah di depan pejabat itu, ajukan data, tanyakan yang tidak bisa mereka jawab. Itulah yang benar-benar membuat kekuasaan tunduk. Bukan botol yang dilempar, bukan panggung yang diduduki," jelas Asip.
Asip menilai tradisi intelektual yang selama ini melekat pada gerakan mahasiswa perlu terus dipertahankan. Menurutnya, kritik yang dibangun di atas riset, data, dan argumentasi yang kuat akan memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan tindakan yang berpotensi menutup ruang komunikasi.
Ia mengatakan gerakan mahasiswa sejak dahulu memperoleh kepercayaan publik karena mampu menghadirkan solusi dan gagasan yang lahir dari kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
"Gerakan mahasiswa yang berpihak pada rakyat lahir dari riset, dari keprihatinan yang terukur, dari tuntutan yang spesifik dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Yang kita lihat sekarang berbeda. Banyak aksi yang digerakkan oleh emosi, mudah terprovokasi, dan sangat rentan disusupi agenda yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyat," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan demokrasi Indonesia menunjukkan banyak perubahan besar lahir dari kekuatan gagasan yang diperjuangkan secara konsisten.
Di tengah dinamika yang terjadi, Asip mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, pemerintah, dan civitas akademika, untuk terus menjaga ruang-ruang dialog sebagai bagian dari tradisi demokrasi Indonesia.