Ilustrasi guru. Foto: Dok. Kemendikdasmen.
Pemerintah bakal Rekrut 5.000 Guru untuk Sekolah Rakyat
Satrio Adi Putranto • 17 June 2026 14:55
Jakarta: Pemerintah bakal menambah ribuan tenaga pendidik baru untuk Sekolah Rakyat. Langkah ini guna mengantisipasi lonjakan jumlah peserta didik baru serta menambal kekurangan tenaga pengajar.
“Tahun ini kita buka kesempatan lagi untuk rekrutmen guru, lebih dari 5.000 lebih guru dan tenaga kependidikan, yang kita buka kesempatan bagi yang memenuhi syarat untuk mengabdi di lingkungan Sekolah Rakyat,” kata Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
Gus Ipul memastikan proses kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat tetap berjalan kondusif. Meski ada beberapa titik yang memerlukan tambahan guru, kondisi tersebut masih dapat diatasi secara optimal oleh tenaga pengajar yang ada.
“Memang ada di beberapa titik yang kita masih kekurangan guru, tetapi selama ini masih bisa di-back up oleh guru-guru yang ada,” ujar Gus Ipul.
Penambahan sumber daya manusia (SDM) secara masif ini dinilai krusial menjelang tahun ajaran 2026-2027. Menurut Gus Ipul, tren peningkatan jumlah siswa yang masuk program jaring pengaman sosial ini, otomatis menuntut pemerintah untuk bergerak cepat memperbanyak kuota guru dan tenaga kependidikan penunjang lainnya.
Pada tahun ajaran 2025-2026, program Sekolah Rakyat telah menampung lebih dari 15 ribu siswa di jenjang SD, SMP, hingga SMA. Selama berjalan, skema pendidikan berasrama ini diklaim berhasil melahirkan kebiasaan positif pada diri anak didik.

Ilustrasi proyek pembangunan Sekolah Rakyat untuk Provinsi Aceh 1. Foto: PT PP.
“Di antaranya lebih disiplin, kemudian mereka lebih bisa fokus dalam belajar. Di sejumlah tempat telah lahir sejumlah prestasi dan yang penting mereka lebih bugar, lebih sehat karena mendapatkan gizi yang cukup dan pola hidup yang sehat,” ujar Gus Ipul.
Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan berasrama tanpa pemungutan biaya (gratis) yang digagas pemerintah khusus untuk menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Sekolah tersebut memadukan kurikulum pendidikan formal, pembinaan karakter, pasokan gizi terukur, hingga pengawasan penuh 24 jam, program ini diharapkan menjadi senjata utama negara dalam mendongkrak kualitas SDM sekaligus memutus mata rantai kemiskinan struktural.