Fasad Gedung Bursa Saham Amerika di Kota New York. (Gupta Sahil/Pexels)
AS dan Iran Sepakati MoU Perdamaian, Pasar Bereaksi Positif
Riza Aslam Khaeron • 17 June 2026 21:19
Jakarta: Iran dan Amerika Serikat (AS) akhirnya menandatangani perjanjian Nota Kesepahaman (MoU) secara virtual pada Senin, 15 Juni 2026. Kesepakatan ini mengakhiri konflik bersenjata antara kedua negara yang telah berlangsung sejak bulan Februari lalu.
Perjanjian ini ditandatangani dengan reaksi yang cukup beragam. Baik dari pihak Iran, AS, dan Israel masih ada penolakan terhadap perjanjian tersebut.Di Iran, protes sempat terjadi di depan gedung Kementerian Luar Negeri. Demonstran menyoroti proses negosiasi yang tidak sesuai, sebelum akhirnya aksi tersebut dibubarkan oleh aparat rezim.
Di sisi lain, tokoh oposisi Iran, "pangeran" Reza Pahlavi, beserta para pendukungnya dari komunitas diaspora Iran juga mengkritik MoU tersebut.
Israel yang telah terlibat langsung dalam operasi militer di Iran selama lebih dari sebulan juga menunjukkan rasa tidak puas. Mengutip Times of Israel, tokoh oposisi Israel sekaligus pesaing utama Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, Naftali Bennett yang menilai MoU tersebut merupakan kegagalan bersejarah melawan Iran.
Ada pula indikasi penolakan terhadap MoU tersebut di dalam pemerintahan Washington sendiri. Seorang pejabat senior AS yang tidak ingin disebutkan namanya memberi tahu media Israel bahwa MoU tersebut menuai kritik dari sebagian kelompok di Washington.
Meski demikian, MoU ini juga mendapat respons positif dari para pemimpin dunia, termasuk sejumlah pemimpin Eropa dan PBB. Reaksi pasar juga cukup positif, baik di tingkat internasional yang ditunjukkan oleh penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG, maupun di pasar domestik AS.
Reaksi Positif Pasar Terhadap Kesepakatan

Foto: Mizuno K/Pexels
Tidak mengherankan bagi siapa pun bahwa kesepakatan ini disambut positif oleh pasar. Sejak perang ini pecah, kritik terus mengalir kepada Presiden AS Donald Trump akibat lonjakan harga minyak global yang sempat menembus 100 dolar AS per barel.
Kenaikan ini dipicu oleh blokade Iran di Selat Hormuz sejak minggu pertama perang, yang akhirnya memicu reaksi berantai terhadap pasar secara keseluruhan.
Pascapenandatanganan MoU, harga minyak mentah Brent turun hingga 78,96 dolar AS per barel untuk pertama kalinya berada di bawah kisaran 80 dolar AS per barel sejak Maret. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 5,8 persen ke posisi 76,05 dolar AS per barel.
Di pasar saham AS, indeks S&P 500 naik 1,7 persen pada hari Senin dan semakin mendekati rekor tertinggi barunya. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 3,1 persen.
Reli pasar juga menjalar ke kawasan Asia. Bursa saham Asia melanjutkan penguatan pada hari Senin setelah sempat bergerak lambat di awal perdagangan. Indeks Nikkei 225 Jepang bahkan sempat menyentuh level 70.000 untuk pertama kalinya sebelum akhirnya melemah tipis dan bergerak di kisaran 0,6 persen.
Di Korea Selatan, KOSPI yang menjadi salah satu indeks dengan kinerja terbaik tahun ini naik lebih dari 2,1 persen. Sementara itu, indeks TAIEX Taiwan menguat 0,6 persen.
Investor Mulai Lebih Berani Setelah Perang Berakhir
Penguatan tersebut menunjukkan bahwa investor mulai kembali berani mengambil risiko setelah salah satu sumber ketidakpastian terbesar dalam beberapa bulan terakhir mulai mereda.Jay Goldberg, analis senior sektor teknologi di Seaport Research Partners yang berbasis di Chicago, mengatakan pengumuman kesepakatan antara AS dan Iran telah mengubah pertimbangan investor dalam menilai risiko pasar hingga menyebabkan lonjakan.
"Sederhananya, perdebatan yang terjadi selama ini adalah: belanja teknologi AI sangat kuat, tetapi ada perang yang sedang berlangsung," ujar Goldberg kepada Al Jazeera.
"Sekarang perang tampaknya sudah berakhir, sehingga argumen tersebut tidak berlaku lagi. Investor kini merasa lebih nyaman untuk mengambil risiko yang lebih besar," lanjutnya.
| Baca Juga: AS Tolak Permintaan Israel untuk Akses Dokumen Kesepakatan Damai dengan Iran |
Kelanjutan dari MoU
Harus dipahami bahwa apa yang disepakati oleh AS dan Iran bukan merupakan kesepakatan damai konkret untuk mengakhiri konflik secara keseluruhan.Kedua belah pihak akan melakukan negosiasi lebih lanjut pada Jumat, 19 Juni 2026 terkait isu nuklir, pencabutan sanksi, pembersihan ranjau di Selat Hormuz, serta konflik antara Israel dan Hizbullah yang masih berlangsung.
Trump sendiri kembali melontarkan ancaman kepada Iran untuk kesekian kalinya bahwa AS akan kembali menyerang Iran jika tidak ada kesepakatan akhir yang tercapai.
"Ini adalah nota kesepahaman. Jika saya tidak menyukainya, atau jika mereka tidak tertib, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka, mengerti? Karena mereka sudah bertingkah buruk selama 47 tahun," ancam Trump saat berbicara bersama Presiden Mesir Abdel Fattah el Sisi pada KTT G7 di Prancis pada 17 Juni 2026.
Namun untuk saat ini, situasi ketegangan tampaknya telah mereda.