AS Tolak Permintaan Israel untuk Akses Dokumen Kesepakatan Damai dengan Iran

Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu. (Anadolu Agency)

AS Tolak Permintaan Israel untuk Akses Dokumen Kesepakatan Damai dengan Iran

Muhammad Reyhansyah • 17 June 2026 18:42

Washington: Amerika Serikat (AS) dilaporkan menolak permintaan Israel untuk mengakses teks Nota Kesepahaman (MoU) yang dimediasi Pakistan antara Washington dan Teheran menjelang penandatanganan resmi di Jenewa, Swiss.

Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait kesepakatan dengan Iran serta perkembangan konflik di Lebanon.

Harian The Jerusalem Post melaporkan bahwa AS menolak permintaan Israel untuk melihat isi memorandum yang telah disepakati sebelum upacara penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada pekan ini.

Koresponden diplomatik i24NEWS, Guy Azriel, juga mengonfirmasi laporan tersebut.

“Saya kini dapat mengonfirmasi bahwa Israel secara resmi meminta akses terhadap MoU Iran dan permintaan itu ditolak. Ini merupakan perkembangan yang luar biasa dan sangat tidak biasa antara dua sekutu dekat dalam isu keamanan nasional yang begitu penting,” tulis Azriel di media sosial, dikutip dari TRT World, Rabu, 17 Juni 2026.

Memorandum tersebut dilaporkan telah ditandatangani secara elektronik oleh Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Kesepakatan itu mengakhiri blokade laut AS terhadap Iran dan pembatasan Iran di Selat Hormuz sebagai imbalan atas komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Dokumen tersebut juga membuka periode negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir Iran dan upaya deeskalasi konflik, disertai kemungkinan pelonggaran sanksi.

Setelah kabar kesepakatan tersebut muncul, harga minyak dilaporkan turun ke bawah 78 dolar AS per barel karena pasar memperkirakan arus perdagangan energi akan kembali lancar.

Sejumlah pemimpin Eropa menyambut positif langkah tersebut, sementara Iran menyatakan perang telah berakhir. Namun, Israel menyuarakan kekhawatiran karena tidak memiliki akses terhadap isi kesepakatan.

Ketegangan Trump dan Netanyahu

Hubungan Trump dan Netanyahu dilaporkan beberapa kali memanas akibat perbedaan pandangan mengenai operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.

Penghentian permusuhan di Lebanon menjadi salah satu tuntutan utama Iran dalam perundingan dengan Amerika Serikat.

Pada awal bulan ini, Trump disebut melontarkan kritik keras kepada Netanyahu dalam percakapan telepon yang berlangsung tegang setelah Israel meningkatkan serangan ke Lebanon.

Sejumlah media, termasuk Axios, melaporkan bahwa Trump mempertanyakan tindakan Israel dan mendesak Netanyahu agar tidak menyerang Beirut ketika Washington sedang berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran.

Netanyahu kemudian membatalkan rencana serangan pada hari itu, namun sepekan kemudian kembali melancarkan serangan ke wilayah selatan Beirut.

Langkah tersebut memicu serangan rudal Iran terhadap Israel dan kecaman terbuka dari Trump terhadap kedua pihak.

Beberapa jam sebelum AS dan Iran mengumumkan kesepakatan sementara pada Senin, Israel kembali melancarkan serangan ke ibu kota Lebanon.

Trump saat itu menyebut respons Hizbullah sebagai tindakan yang “kecil dan tidak berarti” serta tidak layak dijadikan alasan untuk melancarkan serangan Israel pada momen yang sensitif.

Dalam konferensi pers di Yerusalem Barat pada Senin malam, Netanyahu mengakui bahwa dirinya tidak selalu sejalan dengan Trump.

“Dia adalah Presiden Amerika Serikat dan saya adalah Perdana Menteri Israel. Dalam banyak kesempatan kami memiliki pandangan yang sama, namun ada kalanya tidak sepenuhnya demikian. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel,” ujarnya.

Israel Mengaku Tidak Mengetahui Isi Kesepakatan

Pada pertemuan G7 di Prancis pada Selasa, Trump kembali menyampaikan kritik terbuka terhadap Netanyahu.

“Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Bibi, tetapi sekarang Bibi harus lebih bertanggung jawab terkait Lebanon,” kata Trump.

Ia juga menyatakan ketidakpuasannya terhadap cara Israel menangani konflik dengan Hizbullah dan menilai operasi militer tersebut berlangsung terlalu lama dengan korban jiwa yang terus bertambah.

Trump menambahkan bahwa tidak setiap target harus dibalas dengan penghancuran bangunan tempat tinggal karena banyak warga sipil yang tinggal di lokasi tersebut.

Di tengah meningkatnya tekanan politik menjelang pemilu musim gugur yang diperkirakan sulit dimenangkan, Netanyahu disebut menghadapi dorongan domestik untuk mengambil sikap yang lebih independen terhadap Washington.

Memorandum kesepahaman antara AS dan Iran dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat.

Meski rincian lengkapnya belum dipublikasikan, Iran dan Pakistan sebagai mediator menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup penghentian permanen permusuhan di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.

Namun Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer Israel di Lebanon selatan tidak akan dihentikan.

Sejumlah analis menilai sikap tersebut berpotensi mengganggu implementasi kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Dalam konferensi pers pada Senin, Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa Israel tidak mengetahui isi kesepakatan tersebut.

“Saya belum mengetahui apa yang tertulis dalam kesepakatan itu,” katanya, seraya menegaskan bahwa Israel tidak terlibat dalam perundingan, bukan pihak penandatangan, dan karena itu tidak terikat oleh isi perjanjian tersebut.

Baca juga:  Menteri Keamanan Israel Desak Netanyahu Tolak Perjanjian Gencatan Senjata AS-Iran

(Willy Haryono)