Pabrik Baterai Karawang Ditargetkan Beroperasi Penuh Oktober 2026

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Pabrik Baterai Karawang Ditargetkan Beroperasi Penuh Oktober 2026

Ade Hapsari Lestarini • 14 September 2026 21:07

Jakarta: PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama CATL membidik pengoperasian penuh pabrik sel baterai di Karawang, Jawa Barat, pada Oktober 2026.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan pengoperasian pabrik dilakukan secara bertahap. Pada fase pertama, terdapat tiga lini produksi. Perusahaan memulai operasi dengan satu lini sambil menguji lini produksi lainnya.

"Operasi memang bertahap. Total pada fase satu ada tiga line. Kalau saya tidak salah, kita mulai dengan satu line dulu sambil menguji line-line. Harapannya, pada Oktober ini sudah full operation di kapasitas tersebut,” ujar Aditya dalam diskusi MediaMIND 2026 di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
 

Bagian dari industri baterai terintegrasi


IBC didirikan pada 2021 dengan mandat mengembangkan industri baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui proyek Grand Package. Berdasarkan paparan IBC, ruang lingkup perusahaan mencakup pertambangan dan pengolahan nikel, produksi bahan baterai, pembuatan sel dan battery pack, hingga daur ulang baterai.

Pabrik baterai di Karawang menjadi bagian hilir dari rantai tersebut. Proyek itu dijalankan melalui perusahaan patungan CATIB bersama CATL. IBC memiliki kepemilikan saham sebesar 30 persen.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun. Kapasitasnya disiapkan untuk bertambah sebesar 8,1 GWh sehingga mencapai 15 GWh per tahun. Nilai investasi untuk pengembangan pabrik hingga mencapai kapasitas 15 GWh diperkirakan sekitar USD1,2 miliar.

Menurut Aditya, keputusan mengenai ekspansi kapasitas akan diambil pada 2027. Meski demikian, sejumlah persiapan telah dilakukan sejak tahun ini untuk merespons permintaan pasar.

Selain proyek di Karawang, IBC bersama mitranya mengembangkan fasilitas bahan baterai di Tanjung Buli, Halmahera. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas 30 ribu ton dengan nilai investasi USD600 juta.

Fasilitas itu akan memproduksi precursor cathode active material (pCAM) dan cathode active material (CAM) berbasis NMC 955. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
   

Produksi untuk kendaraan listrik dan penyimpanan energi


Pabrik di Karawang telah memulai operasi secara bertahap sejak Juli 2026. Produk yang dihasilkan akan digunakan untuk kendaraan listrik dan battery energy storage system (BESS).

"Sekarang kondisinya sudah seperti ini, jadi sudah beroperasi di bulan Juli. Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk battery energy storage system," kata Aditya.

Dalam paparannya, IBC mencantumkan produk pabrik tersebut meliputi baterai untuk hybrid electric vehicle (HEV) Toyota dan Honda, battery electric vehicle (BEV) Honda, serta sistem penyimpanan energi. IBC juga menyiapkan tenaga kerja untuk mengoperasikan fasilitas tersebut. Sebanyak 600 pekerja telah mengikuti pelatihan di Tiongkok.

Selain itu, perusahaan berencana memasang pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas sekitar 18 megawatt pada 2027. Pembangkit tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan energi pabrik.

Aditya mengatakan fasilitas di Karawang merupakan kawasan produksi yang terintegrasi. Material baterai akan diolah menjadi sel, kemudian memasuki proses pengemasan menjadi modul dan battery pack.

IBC menilai prospek industri baterai terus berkembang. Permintaan tidak hanya berasal dari peralihan kendaraan bermesin konvensional menuju kendaraan listrik, tetapi juga pertumbuhan ekonomi digital.

"Dulu mungkin kita hanya bicara transisi energi, tapi sekarang ada digital economy. Kalau transisi energi itu kaitannya dengan bagaimana baterai bisa mendukung grid dari renewable energy dan transisi dari internal combustion engine menjadi EV. Tapi dengan adanya digital economy, ada permintaan baru dari data center," kata Aditya.

IBC menyebut, permintaan baterai global diproyeksikan meningkat sekitar 10 kali lipat selama periode 2023-2035. Permintaannya diperkirakan meningkat dari 875 GWh pada 2023 menjadi 8.625 GWh pada 2035.

Pertumbuhan terbesar diperkirakan berasal dari BESS. Permintaan BESS diproyeksikan meningkat sekitar 30 kali lipat dalam 12 tahun karena didorong oleh transisi energi dan pertumbuhan pusat data. Konsumsi listrik pusat data juga diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat, dari 485 terawatt hour (TWh) menjadi 1.200 TWh pada 2035. Peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
 

Baterai berbasis nikel masih berpeluang


Aditya mengatakan teknologi baterai saat ini banyak menggunakan lithium iron phosphate (LFP). Jenis baterai tersebut memiliki keunggulan dari sisi biaya.

Sementara itu, baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) masih memiliki ruang pengembangan. NMC menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi sehingga dapat menyimpan energi lebih banyak dengan volume yang sama.

Pengembangan NMC akan diarahkan menuju tegangan yang lebih tinggi, waktu pengisian lebih cepat, dan stabilitas yang lebih baik.

"Kalau kita ingin menjalankan sebuah industri mineral, maka kita tetap harus membuat ini lebih kompetitif melalui inovasi," jelas Aditya.

Teknologi sodium-ion dan solid-state juga terus dikembangkan. Aditya menilai Indonesia perlu terlibat dalam pengembangan teknologi agar mineral di dalam negeri tetap dapat digunakan dalam industri baterai masa depan.

Pengembangan industri baterai juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komoditas lain. IBC mencatat komponen baterai setidaknya menggunakan sekitar 23 persen aluminium dan 18 persen tembaga. Dengan demikian, pengembangan industri baterai tidak hanya dapat mendorong hilirisasi nikel, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi komoditas mineral lainnya. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Ade Hapsari Lestarini)