Oman Ajukan Proposal Pengelolaan Selat Hormuz ke Iran, AS Tolak Pungutan Kapal

Oman mengusulkan pengelolaan bersama Selat Hormuz dengan Iran melalui skema iuran sukarela. (Anadolu Agency)

Oman Ajukan Proposal Pengelolaan Selat Hormuz ke Iran, AS Tolak Pungutan Kapal

Willy Haryono • 29 July 2026 14:20

Muscat: Oman mengajukan proposal yang didukung negara-negara Teluk kepada Iran untuk mengelola Selat Hormuz, termasuk skema pengumpulan iuran sukarela bagi kapal yang melintas.

Dua sumber, yakni seorang pejabat Teluk dan diplomat Barat, mengatakan kepada kantor berita Reuters pada Selasa, 28 Juli 2026, bahwa usulan tersebut dimaksudkan sebagai dasar mengakhiri gangguan perdagangan di selat itu akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Meski demikian, seorang pejabat Amerika Serikat kembali menolak penerapan tarif atau biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ia menegaskan jalur tersebut merupakan perairan internasional yang harus tetap bebas dari kendali maupun pembatasan Iran, sehingga kesepakatan yang sedang dibahas tidak akan memuat pungutan apa pun.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi mengancam akan melanjutkan serangan jika negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan. Sementara itu, Iran membantah sedang berupaya memulai kembali perundingan dengan Washington.

Di tengah proses diplomasi, ketegangan militer masih berlanjut. Komando Pusat Amerika Serikat menuduh Iran meluncurkan beberapa rudal balistik ke pangkalan militer AS di Timur Tengah pada Selasa, namun seluruhnya berhasil dicegat.

Pada hari yang sama, Arab Saudi menyatakan berhasil menghancurkan sejumlah drone yang menargetkan fasilitas minyaknya dan menyebut serangan itu diluncurkan dari wilayah Irak oleh milisi yang didukung Iran.

Selat Hormuz sempat ditutup Iran bagi kapal asing setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Kesepakatan yang dicapai bulan lalu sempat membuka kembali jalur tersebut secara terbatas, tetapi kembali runtuh pada awal Juli setelah Iran menyerang kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang tidak disetujuinya.

Perbedaan Sikap soal Biaya Pelayaran

Dilansir dari media AsiaOne, Rabu, 29Juli 2026, Iran mengusulkan pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman, dengan masing-masing negara mengawasi jalur pelayaran di wilayahnya serta menarik biaya layanan bagi kapal yang melintas. Sebaliknya, Washington menginginkan kondisi kembali seperti sebelum perang, ketika seluruh kapal dapat melintas tanpa dikenai biaya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Teheran mengusulkan agar Iran mengelola jalur pelayaran satu arah di sisinya, sementara Oman mengelola sebagian jalur berlawanan. Dalam proposal Oman, Iran tidak akan memiliki kendali tunggal dan iuran yang dibayarkan kapal bersifat sukarela.

Skema tersebut disebut serupa dengan mekanisme di Selat Malaka, tempat Indonesia, Malaysia, dan Singapura meminta kontribusi sukarela dari kapal untuk mendanai navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan. Seorang diplomat Barat membandingkannya dengan pajak karbon sukarela pada tiket penerbangan yang dapat dipilih sendiri oleh penumpang.

Para menteri luar negeri negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk juga menggelar pertemuan virtual pada Selasa untuk membahas peningkatan kerja sama dalam menjaga kebebasan dan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Sementara itu, komando militer gabungan Iran menolak usulan Trump agar kerugian kapal dibayar menggunakan aset Iran yang dibekukan dan memperingatkan bahwa negara atau perusahaan yang menerima pembayaran tersebut akan dilarang melintas di Selat Hormuz.

Selain itu, kelompok Houthi di Yaman membuka front baru pada 20 Juli dengan mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah. Pada Selasa malam, kelompok tersebut mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi hingga memaksanya berbalik arah.

Trump Ancam Lanjutkan Serangan

Trump mengatakan penghentian kampanye pengeboman selama 13 hari dilakukan setelah mendapat masukan dari komandan militer bahwa strategi tersebut telah mencapai batas efektivitasnya. Serangan itu menewaskan puluhan orang di Iran dan menghancurkan jembatan, terowongan, serta sejumlah sasaran militer di wilayah selatan negara itu.

Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara tetangga yang menewaskan empat personel militer, serta melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil di negara-negara Teluk. Teheran menyatakan aksi tersebut merupakan respons atas serangan Amerika Serikat terhadap sasaran sipil.

Menjelang pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington pada Selasa, Trump kembali menegaskan kesiapannya melancarkan serangan baru terhadap Iran apabila perundingan gagal.

“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan menghancurkannya dengan sangat mudah,” kata Trump, merujuk pada fasilitas bawah tanah Pickaxe Mountain di dekat salah satu lokasi nuklir utama Iran.

Iran menegaskan tidak sedang mengupayakan negosiasi baru dengan Amerika Serikat karena menilai Washington telah melanggar kesepakatan kerangka perundingan yang dicapai bulan lalu.

Di sisi lain, berakhirnya kampanye pengeboman Amerika Serikat membuat harga minyak dunia turun sekitar delapan persen pada Senin, 28 Juli 2026 dan terus melemah pada Selasa, 29 Juli 2026 dengan harga minyak mentah Brent berada di bawah 84 dolar AS per barel. (Keysa Qanita)

Baca juga:  Iran dan Oman Bahas Keamanan Selat Hormuz, Klaim Capai Kemajuan Perundingan

(Willy Haryono)