1 Jenazah Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Sulit Teridentifikasi

Pesawat PT Indonesia Air Transport (IAT). Foto: pinterpoin.com

1 Jenazah Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Sulit Teridentifikasi

Media Indonesia • 21 January 2026 18:34

Makassar: Proses identifikasi dua jenazah yang ditemukan di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport (IAT), menghadapi sejumlah kendala teknis. Kondisi jenazah, terutama yang ditemukan di kedalaman berbeda, menyebabkan pemeriksaan sidik jari tidak selalu memungkinkan.

Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Sulsel mengerahkan metode alternatif seperti odontologi (identifikasi gigi) dan DNA untuk menegaskan identitas dengan ketelitian tinggi, meski membutuhkan waktu lebih lama. Hingga Rabu, 21 Januari 2026, jenazah perempuan telah berhasil diidentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono dan diserahkan kepada keluarga, sementara identifikasi jenazah pria masih berlangsung.

Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes M Haris, mengungkapkan tantangan utama terletak pada kondisi jenazah saat ditemukan. Meski ditemukan dalam waktu berdekatan, kondisi fisik keduanya berbeda signifikan akibat faktor lokasi.

"Salah satu jenazah ditemukan di kedalaman sekitar 400 meter, sementara yang lain di kedalaman 200 meter. Perbedaan ini mempengaruhi tingkat kerusakan jaringan," jelas Haris di Makassar dikutip Media Indonesia, Rabu, 21 Januari 2026.

Menghadapi kendala tersebut, tim Dokkes tidak terburu-buru menetapkan identitas. Mereka mengedepankan prinsip ketelitian dengan beralih ke metode identifikasi primer dan sekunder lainnya.

"Kami masih berproses. Kami upayakan dengan data primer yang lain dari gigi, tulang (osteologi), dan DNA. Itu kami usahakan," tegas Haris.
 


Ia menjelaskan, usia dapat diperkirakan dari kondisi gigi dan sejumlah parameter tulang, namun semua itu masih dalam tahap pemeriksaan mendalam. Haris juga mengungkap tantangan lain, yaitu kecocokan data antemortem (sebelum meninggal) dari keluarga. Mereka memberikan foto lama saat korban masih muda, sementara wajah jenazah dapat berubah drastis akibat faktor cuaca dan waktu setelah meninggal.

"Kami selalu minta keluarganya untuk memberikan data-data yang tepat," katanya.

Lebih lanjut, ia menyebut kasus ini sebagai closed disaster (bencana tertutup), berbeda dengan bencana massal di area terbuka. "Kalau ini di gunung, hutan, kemungkinan besar masyarakat atau orang yang melintas di situ tidak ada. Jadi yang kita dapatkan, nanti data itu diperiksa dengan sangat cermat," paparnya.


Proses evakuasi korban di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa, 20 Januari 2026. Metrotvnews.com/Muhammad Syawaluddin

Proses pencocokan dilakukan secara komprehensif, mulai dari data umum (seperti warna kulit, rambut, ciri badan), tanda khusus (tanda lahir, tato, bekas operasi), hingga data antemortem definitif seperti catatan medis dan DNA, yang menjadi jalur terakhir untuk konfirmasi positif.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Didik Supranoto, menegaskan komitmen tim untuk menginformasikan perkembangan begitu ada kepastian. "Pada prinsipnya, kami akan segera merilis apabila sudah ada perkembangan dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh tim Dokkes," tutupnya.

Pesawat ATR 42-500 IAT yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dinyatakan hilang sejak Sabtu, 17 Januari 2026, di Pegunungan Bulusaraung. Pesawat mengangkut 10 penumpang dari Yogyakarta menuju Makassar. Hingga kini, baru dua jenazah yang ditemukan, sementara delapan orang lainnya masih dalam proses pencarian.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)