Pemimpin Tertinggi Baru Iran Belum Muncul ke Publik

Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei belum menyampaikan pernyataan publik. Foto: Press TV

Pemimpin Tertinggi Baru Iran Belum Muncul ke Publik

Fajar Nugraha • 12 March 2026 11:43

Teheran: Setelah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei belum menyampaikan pernyataan publik.

Ia dipilih menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Mojtaba Khamenei selama ini dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di balik layar dengan mengelola kantor ayahnya selama bertahun tahun. Namun bagi banyak warga Iran, sosoknya tetap relatif tidak dikenal.

Beberapa laporan menyebut Mojtaba kemungkinan terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya, meskipun kondisinya belum dapat dipastikan. Seorang pembawa acara televisi pemerintah bahkan menyebutnya sebagai “janbaz” atau veteran yang terluka dalam konflik yang di Iran disebut Perang Ramadan.


Kekhawatiran terhadap keamanan setelah pembunuhan Ali Khamenei juga diduga menjadi alasan Mojtaba belum tampil di hadapan publik. Pengumuman penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi disampaikan oleh Majelis Ahli pada Minggu malam, 8 Maret 2026.

Sejumlah sumber senior Iran mengatakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memiliki peran besar dalam mendorong penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Kelompok tersebut menilai Mojtaba akan lebih mendukung kebijakan garis keras dibandingkan kandidat lain.

Sejak perang dimulai, pengaruh IRGC disebut semakin kuat dalam sistem kekuasaan Iran. Mereka bahkan mampu mengesampingkan keberatan dari sejumlah politisi dan ulama yang sempat menunda pengumuman penunjukan tersebut.

Analis senior dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai posisi Mojtaba sangat bergantung pada IRGC.

“Mojtaba berutang posisinya kepada IRGC sehingga ia tidak akan sekuat ayahnya,” ujar Vatanka, dikutip dari Channel News Asia, Kamis 12 Maret 2026.

Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama. Namun dalam praktiknya, keputusan tersebut kerap dipengaruhi oleh tokoh politik dan kelompok kekuatan lain di dalam sistem.

Pemilihan Mojtaba dilakukan di lokasi yang dirahasiakan setelah gedung pertemuan di kota Qom dibom. Ayatollah Mohsen Heydari mengatakan sekitar 85–90 persen anggota yang hadir mendukung penunjukan tersebut.

Beberapa ulama dilaporkan menolak penunjukan Mojtaba karena dianggap menyerupai suksesi turun temurun dalam kepemimpinan Iran. Mereka khawatir keputusan tersebut dapat menjauhkan sebagian pendukung sistem pemerintahan negara itu.

Seorang mantan pejabat reformis juga menyebut IRGC mengancam pihak yang mengkritik penunjukan Mojtaba. Para pengamat menilai kondisi ini berpotensi membuat kebijakan luar negeri dan domestik Iran menjadi lebih keras dengan pengaruh militer yang semakin kuat.

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)