Fenomena Bediding Mulai Dirasakan di Semarang, Suhu Malam Turun Drastis

Cuaca cerah dan mulai memasuki musim kemarau mengakibatkan perbedaan jauh suhu siang dan malam di Kota Semarang (MI)

Fenomena Bediding Mulai Dirasakan di Semarang, Suhu Malam Turun Drastis

Akhmad Safuan • 10 June 2026 16:00

Semarang: Fenomena bediding (udara dingin) juga dirasakan warga Semarang, Jawa Tengah. Perbedaan suhu udara siang dan malam yang sangat jauh membuat warga Semarang harus cepat menyesuaikan diri, khawatir berdampak pada kesehatan.

Pada siang hari udara di Semarang dapat mencapai 18-34 derajat celsius hingga terasa panas dan gerah. Namun pada malam hari, suhu udara turun drastis hingga di bawah 14 derajat celsius.

"Perubahan suhu siang dan malam sangat terasa, sehingga badan menjadi meriang," ujar Dewi, 48 warga Sumowono, Kabupaten Semarang, Rabu, 10 Juni 2026.

Hal serupa juga diungkapkan Nur Aini, 65, warga Kota Semarang. Dia mengaku merasakan perubahan suhu udara yang cukup menyolok pada siang dan malam hari. 

"Pada siang sangat panas namun pada malam hari sangat dingin hingga terpaksa harus pakai jaket dan selimut," jelas dia. 

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menjelaskan, kondisi perubahan suhu yang cukup drastis pada siang dan malam tersebut berkaitan dengan proses pelepasan panas dari permukaan bumi yang berlangsung lebih maksimal pada malam hari, sehingga terasa amat dingin.

Menurut Goeroeh, sepanjang siang hari permukaan bumi menyerap panas dari sinar matahari. Namun  ketika malam tiba, energi panas tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer, karena proses itu menjadi lebih efektif ketika langit berada dalam kondisi cerah tanpa tutupan awan.

"Karena langit yang cerah tidak ada yang menghalang, tidak ada awan yang berperan sebagai selimut alami yang membantu menahan sebagian panas di atmosfer," ujar Goeroeh.


Cuaca cerah dan mulai memasuki musim kemarau mengakibatkan perbedaan jauh suhu siang dan malam di Kota Semarang (MI)

Goeroeh mengungkap saat malam, pada akhir-akhir ini jumlah awan berkurang. Sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas, maka suhu udara turun lebih cepat. 

"Kondisi tersebut umum terjadi saat musim kemarau mulai berlangsung, ketika curah hujan menurun dan langit malam cenderung lebih bersih," jelas dia.

Goeroeh  menerangkan udara dingin yang dirasakan warga Semarang tidak selalu dapat disebut sebagai fenomena bediding. Lantaran, kata dia, fenomena tersebut tidak muncul secara konsisten setiap hari dan sangat bergantung pada kondisi atmosfer.

"BMKG  tetap diimbau menjaga kondisi kesehatan tubuh karena perbedaan suhu antara siang dan malam hari bisa cukup signifikan," pesan dia. 

(Lukman Diah Sari)