Gejala DBD dan Hantavirus Mirip, Musim Hujan Berpotensi Picu Lonjakan Kasus

Ilustrasi Pexels

Gejala DBD dan Hantavirus Mirip, Musim Hujan Berpotensi Picu Lonjakan Kasus

Muhamad Marup • 24 May 2026 16:02

Jakarta: Tingginya curah hujan yang kerap memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya membawa ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit berbahaya lain yang ditularkan oleh hewan pengerat, yakni hantavirus yang menyita perhatian publik belakangan ini juga berpotensi meningkat.

"Risiko penularan virus ini akan semakin melonjak saat musim hujan dan banjir, di mana kawanan tikus kerap keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap di dalam rumah," ujar ?Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Febri Endra Budi Setyawan, mengutip laman UMM, Minggu, 24 Mei 2026.

Ia menjelaskan, hantavirus dan DBD memiliki gejala awal yang sangat mirip.? Yang membedakan dengan DBD, Hantavirus biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan.

"Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat," jelasnya.

Febri mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap mengedepankan tindakan preventif secara disiplin. Langkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang.

"Menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup juga sangat vital untuk membentuk sistem imun tubuh," ucapnya.

Perbedaan Hantavirus dan Kencing Tikus

Febri menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis (penyakit kencing tikus) yang disebabkan oleh bakteri, hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara.

"Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia," katanya.

Ia menuturkan, secara klinis, hantavirus terbagi dalam dua kondisi utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengganggu fungsi ginjal, serta hantavirus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun seiring waktu, pasien bisa mengalami sesak napas, perdarahan, hingga munculnya ruam kulit yang spesifik.


Ilustrasi tikus. Foto: Pexels.


?Hingga saat ini, belum ada obat spesifik maupun vaksin yang ditemukan untuk mematikan hantavirus. Penanganan medis hanya berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap berjalan dengan baik.

?"Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien," terangnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)