Waspada Hantavirus, Jangan Langsung Sapu Kotoran Tikus

Ilustrasi tikus. Foto: Pexels.

Waspada Hantavirus, Jangan Langsung Sapu Kotoran Tikus

Atalya Puspa • 19 May 2026 15:51

Jakarta: Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Upik Kesumawati, meminta masyarakat tak panik namun tetap waspada. Terutama, dalam menghadapi potensi penyebaran hantavirus.

Upik mengingatkan masyarakat berhati-hati menangani kotoran tikus di sekitar rumah. "Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup. Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan," kata Upik dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 19 Mei 2026.

Upik menjelaskan hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia. Virus zoonosis yang ditularkan tikus ini, sudah dikenal dalam penelitian sejak 1980-an dan dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.

Manusia, kata Upik, dapat terinfeksi setelah menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang telah terkontaminasi.
 


Hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama. Pertama, Hantavirus Pulmonary Syndrome yang menyerang sistem pernapasan dan dapat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 40 persen.

Sindrom kedua, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome. Sindrom itu menyerang ginjal dengan tingkat kematian berkisar 5 hingga 15 persen.

Gejala awal sindrom kedua ini, meliputi demam, nyeri otot di paha, punggung, dan bahu, badan lemas, sakit kepala, serta gangguan pencernaan. Pada kondisi lebih lanjut setelah 4-10 hari, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.


Ilustrasi tikus. Foto: Pexels.

Upik mengimbau masyarakat menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Agar, tidak menjadi tempat berkembangnya tikus, rutin mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.

Upik meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, jika mengalami demam disertai gangguan pernapasan atau ginjal. Terutama, setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.

"Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utamanya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan," pungkas Upik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)