Ini Penjelasan Menkeu soal Daya Beli, Inflasi, dan Subsidi BBM 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.

Ini Penjelasan Menkeu soal Daya Beli, Inflasi, dan Subsidi BBM 2026

Richard Alkhalik • 19 May 2026 22:16

Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis spekulasi yang menyebutkan adanya pelemahan daya beli masyarakat Indonesia. Hal ini didasarkan pada realisasi pertumbuhan ekonomi yang masih kokoh, serta laju inflasi yang tetap terjaga.

Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026. Ia mengatakan inflasi nasional masih terkendali selaras dengan rentang target Bank Indonesia, sehingga daya tahan ekonomi masyarakat lapis bawah masih kuat.

"Ternyata sampai sekarang baru 2,42 persen. Jadi inflasi terkendali ini juga membantu daya beli masyarakat kita tidak tergerus. Kenapa ini? Karena upaya pemerintah untuk menjalankan inflasi betul-betul serius," tegas Purbaya.
 

Konsumsi rumah tangga jadi motor penggerak ekonomi


Purbaya juga meluruskan pandangan sejumlah analis yang menilai pertumbuhan ekonomi domestik rentan, lantaran hanya terlalu bergantung pada instrumen belanja pemerintah.

Ia memaparkan, komponen pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama yang mencapai 5,61 persen ditopang konsumsi rumah tangga yang menjadi motor penggerak utama.

"Jadi walaupun pemerintah tumbuhnya cepat, tapi karena pangsanya lebih kecil, total kontribusinya ya seperti itu. Jadi enggak benar daya beli masyarakat turun," tegas dia.



Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan daya beli masyarakat masih baik. Foto: dok Metrotvnews.com.
   

Subsidi BBM dipastikan aman


Selain itu, Bendahara Negara tersebut juga meredam kekhawatiran publik terkait potensi lonjakan beban fiskal akibat turunnya nilai tukar rupiah terhadap anggaran subsidi energi.

Ia mengatakan alokasi subsidi, khususnya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), akan tetap dipertahankan. Menurut Purbaya, skema perhitungan anggaran saat ini telah mengambil angka rupiah tertentu yang berbeda dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABBN) sebelumnya, sehingga masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan potensi kenaikan harga.

"Artinya, ke depan inflasi kita akan tetap terjaga, apalagi subsidi BBM masih kita pertahankan Sampai akhir tahun saya bilang," kata Purbaya.

Purbaya menjelaskan, strategi injeksi likuiditas ratusan triliun rupiah ke dalam sistem perbankan kerap disalahpahami oleh berbagai pihak. Ia mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mencegah matinya sektor swasta.

Menurut Purbaya, ketahanan ekonomi nasional terus ditopang oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin erat untuk menjaga pertumbuhan utamanya sektor swasta.

"Dalam hal ini penempatan dana pemerintah di bank komersial terus bisa disenergikan dengan strategi moneter guna memperkuat likuiditas sistem keuangan. Kalau Anda lihat base money tahun M0 di April tumbuhnya 14,1 persen. Jadi ada cukup uang di perekonomian yang akan mengerek pertumbuhan perekonomian," ujar Purbaya.


Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN Kita. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.
   

Memacu sektor swasta dan riil


Menurut Purbaya, banyak pihak yang belum menyadari dari pertumbuhan uang beredar yang mencapai 14,1 persen. Ia menyoroti periode historis sebelumnya, yakni pertumbuhan likuiditas sempat mengalami stagnasi bahkan terkontraksi di level negatif.

Kondisi tersebut, jika dibiarkan, sangat berisiko mematikan sektor swasta dan riil. Ia mengatakan pemerintah mendorong pertumbuhan tersebut hingga menembus level dua digit di atas 14 persen untuk memastikan roda perekonomian di sektor swasta dan riil dapat kembali bekerja.

“Kalau saya atau pemerintah tidak hanya fokus membelanjakan uangnya untuk program pemerintah saja, tapi juga memastikan riil sektor bisa berjalan caranya seperti ini. Jadi uang yang Rp200 triliun membantu bank sentral juga menambah likuiditas di sistem perekonomian kita,” ungkap Purbaya.

Menurutnya dengan langkah kebijakan tersebut berdampak kredit tumbuh lebih cepat, suku bunga turun, dan sektor swasta tumbuh.

Dalam paparannya ia mengatakan pemerintah berkomitmen untuk menjaga momentum ini agar sektor pemerintah maupun swasta dapat melesat secara bersamaan. Terkendalinya inflasi domestik dinilai sebagai pijakan yang solid bagi kedua sektor tersebut.

“Jadi ini bukti real kebijakan, moneter, dan fiskal, kalau jalannya sinergi, bisa menembuhkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Kan kita ingin menjalankan dua masin pertumbuhan, pemerintah dan swasta,” kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)