Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana (kanan) memberikan keterangan dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-13 kecelakaan KM Virgo Transport 8, di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (25/9/2026) malam.
Kapal Miring Hambat Evakuasi, Basarnas Minta Salvage KM Virgo Transport 8 Dipercepat
Whisnu Mardiansyah • 25 September 2026 23:14
Banjarmasin: Basarnas mendorong perusahaan pemilik KM Virgo Transport 8 mempercepat proses salvage atau pengangkatan badan kapal yang karam di Laut Jawa. Langkah tersebut dinilai dapat membantu tim SAR gabungan menjangkau bagian kapal yang masih sulit diakses untuk mencari dan mengevakuasi korban.
Kondisi badan kapal yang miring dan tidak stabil menjadi salah satu kendala dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR). Sejumlah bagian kapal tidak dapat dimasuki penyelam karena berisiko terhadap keselamatan personel.
Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana selaku SAR Mission Coordinator mengatakan unsur personel, peralatan utama, dan fasilitas pendukung di darat tidak mengalami kendala dalam pelaksanaan operasi hingga hari ke-13. Hambatan utama berada pada kondisi cuaca dan badan kapal.
“Hanya faktor cuaca dan faktor kondisi kapal. Karena kapal posisinya miring, ada bagian-bagian yang tidak bisa dilalui oleh penyelam karena membahayakan, berisiko untuk keselamatan. Jadi percepatan operasi salvage ini akan sangat membantu tim SAR,” kata Putu dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-13 kecelakaan KM Virgo Transport 8, di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, seperti dilansir Antara, Jumat malam, 25 September 2026.
Putu menjelaskan posisi kapal membuat sejumlah ruang tidak dapat ditelusuri oleh penyelam. Pemaksaan akses ke bagian tersebut dapat meningkatkan risiko keselamatan sehingga setiap kegiatan pencarian harus diawali dengan asesmen.
Menurut Putu, pengangkatan badan kapal sekaligus pengembalian posisinya dapat membuka akses ke ruangan yang sebelumnya sulit dijangkau. Kondisi kapal yang kembali pada posisi lebih stabil diharapkan memudahkan tim SAR melakukan pencarian di berbagai bagian kapal.
“Begitu itu dilaksanakan, tim SAR gabungan lebih mudah untuk proses evakuasi korban di dalam bangkai kapal, karena sudah diangkat, dibalikkan. Jadi, seperti kapal biasa, kita bisa mencari di semua ruangan kapal,” ujarnya.

Tim SAR gabungan mengevakuasi lima jasad yang baru ditemukan dari dalam badan kapal yang tenggelam dinaikkan ke KN SAR Kamajaya dan KRI Gusti Ngurah Rai. (ANTARA/HO-Basarnas)
Putu menegaskan proses salvage bukan bagian dari tugas Basarnas. Pengangkatan badan kapal menjadi tanggung jawab perusahaan pemilik kapal dan pihak asuransi. Meski tidak menjalankan proses tersebut, Basarnas terus mendorong agar salvage segera dilakukan untuk mendukung pencarian dan evakuasi korban.
“Bukan kami yang melaksanakan. Tapi kami mendorong bila perlu dipercepat ya,” katanya.
Dalam pelaksanaan operasi, Basarnas memastikan seluruh upaya pencarian oleh tim SAR gabungan tetap mengutamakan keselamatan personel. Pencarian dilakukan melalui unsur laut, udara, dan darat, termasuk penyelam, dengan pelaksanaan kegiatan disesuaikan hasil asesmen keselamatan.
Hingga hari ke-13 operasi SAR pada Jumat, 25 September 2026, pukul 22.00 Wita, Basarnas mencatat 160 korban telah ditemukan dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8. Dari 160 korban tersebut, sebanyak 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan 52 orang meninggal dunia. Sementara itu, 83 korban lainnya masih dalam proses pencarian.