Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, dibidik beberapa waktu lalu. (ANTARA/Riadi Gunawan)
Peneliti BRIN Ungkap Anak Krakatau Tumbuh Lagi
Achmad Zulfikar Fazli • 23 September 2026 19:10
Jakarta: Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dini Nurfiani mengungkapkan Gunung Anak Krakatau yang runtuh pada 2018, kembali tumbuh. Hal ini terjadi akibat aktivitas erupsi berlangsung bertahap.
Dini menjelaskan BRIN, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), University of Birmingham, ITB, Penn State Univerity, British Geological Survey, serta University of Oxford terus melakukan penelitian. Temuan awal Gunung Anak Krakatau memperlihatkan gunung api merupakan sistem yang dinamis.
"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini dalam keterangan di Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu, 23 September 2026.
Dini memaparkan sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.
Dia menambahkan keruntuhan tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan.
Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sedangkan air laut masuk ke kawah yang terbuka.
"Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya," ujar Dini.
.jpg)
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan. ANTARA/Riadi Gunawan
Baca Juga :
Status Gunung Anak Krakatau Turun Level Waspada
Dini mengatakan sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase yang disebut sebagai rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.
Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu proses pertumbuhan terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah runtuhan.
Dini menjelaskan perjalanan Anak Krakatau menunjukkan memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
"Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya," tutur Dini.