Houthi mengklaim empat pekerja telekomunikasi tewas dalam serangan Arab Saudi di Al-Jawf, Yaman. (Anadolu Agency)
Houthi Klaim Serangan Udara Saudi Tewaskan 4 Pekerja Telekomunikasi di Yaman
Muhammad Reyhansyah • 21 September 2026 11:18
Sanaa: Kelompok pemberontak Houthi mengklaim empat pekerja telekomunikasi tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan udara Arab Saudi yang menargetkan fasilitas telekomunikasi di Provinsi Al-Jawf, Yaman utara, Minggu, 20 September 2026.
Media yang dikelola Houthi, Al-Masirah TV, melaporkan pesawat tempur Saudi menyerang menara telekomunikasi di wilayah Al-Jawf yang berbatasan dengan Arab Saudi.
“Empat pekerja di fasilitas telekomunikasi tewas dalam serangan tersebut,” sebut laporan Al-Masirah, mengutip informasi dari sumber lokal, dilansir dari Xinhua.
Arab Saudi belum memberikan komentar atas laporan tersebut. Jumlah korban juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan yang dilaporkan tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Houthi juga mengklaim pesawat tempur Saudi melancarkan 28 serangan udara dalam 24 jam hingga Minggu. Serangan tersebut disebut berlangsung di Provinsi Al-Jawf, Taiz di Yaman barat daya, serta Marib di timur laut yang merupakan wilayah kaya minyak.
Pertempuran sengit juga terus berlangsung di Yaman barat daya. Houthi mengklaim telah merebut kota pelabuhan Laut Merah, Mokha, pada 10 September, sebelum bergerak ke selatan dan menguasai Dhubab serta Pulau Mayyun di Selat Bab al-Mandab sehari kemudian.
Pasukan pemerintah Yaman kini berupaya menghentikan kemajuan Houthi melalui jalur pegunungan menuju jalur perairan strategis tersebut.
Konflik Yaman bermula pada akhir 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara.
Perkembangan tersebut mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Kemajuan terbaru Houthi menandai eskalasi konflik paling tajam sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 secara signifikan menghentikan pertempuran besar.
Baca juga: Trump Klaim Houthi Tak Akan Serang AS, Sebut Washington Terus Berkomunikasi