Indonesia dan 9 Negara Desak Perlindungan Pekerja Kemanusiaan di Lebanon

Kerusakan akibat serangan Israel di Lebanon. (Anadolu Agency)

Indonesia dan 9 Negara Desak Perlindungan Pekerja Kemanusiaan di Lebanon

Willy Haryono • 15 April 2026 13:56

Ottawa: Indonesia bersama sembilan negara lainnya merilis pernyataan bersama yang menyuarakan kekhawatiran mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan serta krisis pengungsian di Lebanon.

Koalisi tersebut terdiri dari Australia, Brasil, Kanada, Kolombia, Indonesia, Jepang, Yordania, Sierra Leone, Swiss, dan Inggris.

Meskipun menyambut gencatan senjata yang disepakati antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, negara-negara tersebut mendesak agar permusuhan di Lebanon segera dihentikan sepenuhnya.

Perlindungan Warga Sipil dan Pekerja Kemanusiaan Disorot

Dalam pernyataannya, koalisi menegaskan bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil harus dilindungi sesuai hukum internasional, serta memperingatkan meningkatnya risiko terhadap keselamatan personel kemanusiaan.

“Serangan yang mengancam keselamatan dan keamanan personel kemanusiaan harus dihentikan. Hukum humaniter internasional harus ditegakkan oleh semua pihak yang berkonflik dalam segala situasi,” demikian pernyataan tersebut, dikutip Yeni Safak, Rabu, 15 April 2026.

Deklarasi Perlindungan Personel Kemanusiaan

Para penandatangan juga mengecam keras insiden yang menewaskan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta meningkatnya ancaman terhadap pekerja bantuan di Lebanon selatan.

Mereka menuntut adanya akuntabilitas dan keadilan atas setiap pelanggaran hukum internasional yang terjadi.

Pernyataan ini juga merujuk pada Deklarasi Perlindungan Personel Kemanusiaan yang diluncurkan pada September 2025, yang telah didukung lebih dari 100 negara.

Melalui inisiatif tersebut, negara-negara berkomitmen untuk memastikan para pekerja kemanusiaan dapat menjalankan tugas tanpa harus mempertaruhkan nyawa mereka.

Pernyataan bersama ini muncul di tengah pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon di Washington, yang merupakan pertemuan pertama dalam lebih dari 30 tahun, serta berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon selatan.

Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa sekitar satu juta warga mengungsi. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Israel dan Lebanon Sepakat Bernegosiasi Langsung usai Pertemuan di AS

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)