Global Auction Rayakan 23 Tahun dengan Lelang 205 Karya Seni

Salah satu karya yang menjadi highlight Global Auction Anniversary Sale, Women by the Lotus Pond karya Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres. (Foto: Dok. Ist)

Global Auction Rayakan 23 Tahun dengan Lelang 205 Karya Seni

Patrick Pinaria • 19 August 2026 17:48

Jakarta: Global Auction merayakan 23 tahun kiprahnya dengan menghadirkan 205 karya dalam Global Auction Anniversary Sale yang mencakup Southeast Asian, Chinese, Modern & Contemporary Art. Lelang online berlangsung pada 11-30 Agustus 2026, sebelum ditutup melalui lelang secara live pada 30 Agustus 2026 di Park Hyatt Jakarta.

Lebih dari sekadar menghadirkan karya dari berbagai generasi, lelang ini menjadi kesempatan untuk melihat perjalanan seni rupa Indonesia dalam berbagai bentuk dan pendekatan.

Salah satu highlight utama adalah Women by the Lotus Pond karya Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres. Pelukis Impresionis asal Belgia yang lahir pada 1880 ini menjadikan Bali sebagai rumahnya setelah berkelana ke berbagai penjuru dunia.

Di Bali, ia menemukan sumber inspirasi yang tidak pernah habis, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga kecantikan perempuan Bali. Dalam lukisan ini, empat perempuan Bali berkumpul di tepi kolam teratai yang berada di kediaman Le Mayeur, yang kini menjadi museum.

Sapuan kuas yang lepas dan warna-warna cerah menghadirkan suasana yang hidup namun tetap tenang. Karya ini telah diverifikasi oleh Jop Ubbens, penulis monograf mengenai Le Mayeur, yang semakin memperkuat nilai penting, keaslian, dan kualitas karya ini.


Salah satu karya yang menjadi highlight Global Auction Anniversary Sale, Women by the Lotus Pond karya Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres. (Foto: Dok. Ist)

Dari Le Mayeur, perjalanan kemudian berlanjut ke masa ketika seni rupa modern Indonesia mulai menemukan bentuknya sendiri. Beberapa nama yang hadir dalam lelang ini memiliki keterkaitan dengan Presiden Soekarno, yang dikenal sebagai patron seni dengan perhatian besar terhadap perkembangan seni rupa Indonesia.

Di antaranya adalah Dullah dan Lee Man Fong, yang tidak hanya dikenal sebagai pelukis, tetapi juga memiliki peran sebagai kurator seni Istana pada masa Soekarno, yaitu sekitar periode 1950-an.

Dalam lelang kali ini, karya-karya Dullah memperlihatkan pendekatan realis yang menjadi cirinya, baik melalui pemandangan maupun potret. Sementara itu, Dancing Shiva (Elephanta Cave) (1971) karya Lee Man Fong lahir dari perjalanannya di India pada 1971—1972.

Selain dikenal melalui perpaduan tradisi lukis Tiongkok dan Barat, Man Fong banyak menghasilkan karya yang menjadi semacam travel record, merekam tempat dan pengalaman yang ia temui sepanjang perjalanan.


Pura Ulun Danu Beratan Bedugul oleh Dullah & Dancing shiva (£lephanta Cave), 1971 oleh Lee Man Fong. (Foto: Dok. Ist)

Basoeki Abdullah hadir melalui Artistically Talented (1979). Dikenal sebagai maestro realis dan naturalis serta Pelukis Istana pada era Soekarno, ia banyak melukis tokoh-tokoh penting, termasuk tamu negara dan para pemimpin dunia. Potret perempuan dalam karya tersebut memperlihatkan pendekatan realis Basoeki.


Artistically Talented oleh Basoeki Abdullah. (Foto: Dok Ist)

Kemudian, terdapat nama-nama penting lainnya yang karyanya turut menjadi bagian dari koleksi Soekarno. Salah satunya adalah S. Sudjojono, yang dikenal sebagai salah satu pelopor seni rupa modern Indonesia sekaligus pendiri PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia).

Pada lelang ini, terdapat tiga karyanya, yaitu Flora (Bunga) (1963), Sacred Ocean (Tirta Samudra) (1952), dan Orchid and an Angel (1985).


Orchid and an Angel, 1985 oleh S. Sudjojono. (Foto: Dok. Ist)

Affandi hadir dengan bahasa visual yang sangat khas. Dalam Bridge Under the Bamboo Trees (1972), sapuan kuasnya yang spontan dan ekspresif membuat pepohonan, bambu, dan jembatan seolah bergerak di atas kanvas.

Bagi Affandi, lanskap bukan sekadar sesuatu yang dilihat, tetapi sesuatu yang diterjemahkan melalui gestur, emosi, dan energi.


Bridge Under the Bamboo Trees, 1972 oleh Affandi. (Foto: Dok. Ist)

Perkembangan seni rupa modern kemudian berlanjut di Bandung. Saat Ries Mulder mengajar di Institut Teknologi Bandung, ia memperkenalkan gagasan seni modern Eropa, termasuk Cubism dan abstraksi, kepada generasi seniman yang kelak memberi pengaruh besar pada seni rupa Indonesia.

Di antara muridnya adalah Srihadi Soedarsono, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, A.D. Pirous, Mochtar Apin, dan But Muchtar.

Dalam lelang ini, Srihadi Soedarsono hadir dengan lima karya, termasuk Spirit of Life — Oleg Tambulilingan (1992), Zioat (1989), dan Dancer II (1960).

Dikenal sebagai “master of colour”, Srihadi mengembangkan bahasa visualnya melalui kekuatan warna, bentuk, dan kecenderungannya menuju abstraksi. Karya-karya Popo Iskandar, Ahmad Sadali, A.D. Pirous, Mochtar Apin, dan But Muchtar melengkapi gambaran tentang beragam arah yang tumbuh dari lingkungan seni Bandung tersebut.



Selain nama-nama tersebut, lelang ini turut menghadirkan karya dari Emiria Soenassa, salah satu pelopor perempuan dalam seni rupa modern Indonesia, melalui Light Dance (1954).

Lalu terdapat pula karya-karya dari Arie Smit, Hendra Gunawan, Abdul Aziz, dan I Gusti Agung Mangu Putra. Memasuki generasi kontemporer, terdapat karya I Nyoman Masriadi melalui Hero Audition (2023) dan Heri Dono melalui Resistance to the Power of Persecution (2019).



Cakupan lelang kemudian meluas ke seniman-seniman Asia Tenggara. Dari Malaysia hadir Awang Damit, sementara dari Vietnam terdapat Tran Luu Hau. Keduanya membawa pendekatan ekspresionis yang khas dalam karya masing-masing.

Pilihan karya semakin beragam dengan hadirnya seni patung melalui Gregorius Sidharta Soegijo dan I Nyoman Nuarta.



Pada akhirnya, ke-205 karya dalam lelang ini membawa cerita masing-masing. Ada yang lahir dari lingkungan di sekitar sang seniman, lalu ada pula yang terinspirasi dari perjalanan, tradisi, maupun perubahan zaman.

Setiap seniman menerjemahkannya dengan cara yang berbeda, namun semuanya dipertemukan oleh satu semangat yang sama: terus berkarya.

Menurut Yohanes Kevin Oenardi Raharjo, Director of Global Auction, “Komitmen kami adalah menghadirkan karya-karya berkualitas bagi para kolektor sekaligus terus membangun wadah yang bermakna bagi seni Indonesia dan Asia Tenggara. Setiap karya memiliki cerita dan nilai artistiknya sendiri. Kami berharap dapat mempertemukan karya-karya tersebut dengan kolektor yang benar-benar menghargainya dan kemudian menjadi bagian dari perjalanan karya itu selanjutnya.”

Seluruh karya dapat dilihat dalam public preview hingga sebelum lelang ditutup pada 30 Agustus 2026. Untuk mengikuti lelang, tersedia pilihan online bid, in-person bid, maupun telephone bid.
 

Detail lelang

Periode Lelang

11-30 Agustus 2026
Registrasi dapat dilakukan melalui: https://global.auction/auction
 

Preview Karya

11-30 Agustus 2026 | Buka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB
Masterpiece Building, Jl. Tanah Abang IV No. 23-35, Jakarta
 

Live Auction

Minggu, 30 Agustus 2026 | Pukul 14.00 WIB
Park Hyatt Jakarta, Jl. Kebon Sirih No. 17-19, Jakarta

Lihat e-katalog lengkap di sini. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://global.auction/ atau kontak kami melalui infopglobal.auction atau +62 821 800 60 800.

(Patrick Pinaria)