Viral Peternakan Dago Dairy Lembang Tutup, Pemilik Beri Klarifikasi

Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi saat bertemu dengan pemilik peternakan sapi Dago Dairy, Mark dan Yanti. (istimewa)

Viral Peternakan Dago Dairy Lembang Tutup, Pemilik Beri Klarifikasi

Media Indonesia • 30 August 2026 20:25

Bandung Barat: Video pemilik peternakan sapi perah Dago Dairy di Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beredar di media sosial. Dalam video tersebut, pemilik peternakan, Mark bersama istrinya, Yanti, menyampaikan rencana menghentikan operasional usaha mereka.

Mark dan Yanti menyebut persoalan tenaga kerja menjadi salah satu alasan keputusan tersebut. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pekerja selama hampir dua tahun.

Kondisi itu semakin dirasakan seiring minimnya ketertarikan anak muda untuk bekerja di sektor peternakan, khususnya peternakan sapi perah.

Keterbatasan tenaga kerja juga membuat salah seorang pekerja harus menjalani dua sif. Situasi tersebut berdampak pada waktu yang tersedia untuk perawatan sapi dan pemeliharaan kandang.

"Mark harus bekerja dua shift. Saya tidak ada waktu untuk merawat sapi dengan baik atau memperbaiki kandang," kata Mark dan Yanti dalam video tersebut.
 


Pasangan tersebut juga tidak memiliki rencana meneruskan usaha peternakan kepada kedua anak mereka yang kini tinggal di Australia. Menurut mereka, anak-anaknya tidak berminat melanjutkan usaha keluarga tersebut.

"Dan kedua putra kami tinggal di Australia. Mereka mencintai Indonesia, tetapi tidak ingin melanjutkan peternakan," ucapnya.

Dalam video tersebut, Mark dan Yanti turut menyampaikan apresiasi kepada para pekerja serta pihak-pihak yang selama ini mendukung keberlangsungan Dago Dairy.

Pemilik Klarifikasi Alasan Peternakan Ditutup

Setelah video penutupan peternakan ramai di media sosial, Mark dan Yanti kembali memberikan klarifikasi dalam video yang disebarkan Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi, Bripka Taufan Rizki.

Dalam penjelasan tersebut, mereka meluruskan informasi mengenai alasan penghentian operasional Dago Dairy. Mark menegaskan keputusan tersebut tidak berkaitan dengan persoalan ataupun konflik dengan pekerja lokal.

Menurut Mark, kesulitan memperoleh tenaga kerja menjadi salah satu faktor utama di balik penutupan peternakan. Ia menilai persoalan tenaga kerja di sektor peternakan juga terjadi di berbagai negara.

"Kenapa kami tutup? Ada dua alasan. Yang pertama, kami sedikit mengalami masalah untuk mendapatkan pekerja tetap. Ini masalah di seluruh dunia, Australia ada masalah ini, Eropa juga ada masalah ini," kata Mark.

Ia mengatakan minat anak muda untuk bekerja di sektor peternakan saat ini cukup rendah. Mark sekaligus membantah anggapan penutupan Dago Dairy dipicu persoalan dengan masyarakat maupun pekerja lokal.

"Biasanya anak muda tidak mau bekerja di peternakan. Ini sama sekali tidak ada masalah dengan penduduk lokal. Pekerja kami lokal. Saya tidak pernah bilang itu," tegasnya.

Yanti dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan keinginan dirinya bersama suami untuk memasuki masa pensiun dan beristirahat dari aktivitas peternakan. Ia turut mengucapkan terima kasih atas perhatian masyarakat terhadap Dago Dairy.

Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi Bripka Taufan Rizki mengatakan klarifikasi diberikan setelah muncul beragam spekulasi di media sosial terkait keputusan Dago Dairy menghentikan operasional.

Taufan meminta masyarakat tidak mengambil kesimpulan sendiri atau menghubungkan penutupan peternakan dengan dugaan konflik antara pemilik dan pekerja lokal.

"Alhamdulillah, kita sudah melakukan klarifikasi bahwa ibu memang ingin pensiun dan beristirahat. Jadi, untuk informasi yang berkembang di media sosial, kami berharap netizen bisa memahami, tidak berspekulasi macam-macam, Mark dan ibu Yanti ingin beristirahat, menjalani kehidupan dengan tenang dan damai," ucap Taufan. (Depi Gunawan)

(Whisnu M)