Kabut Asap Tipis di Tanjungpandan Belitung Dipicu Pembakaran Lokal

Kondisi kabut tipis menyelimuti kota Tanjungpandan akibat akumulasi emisi pembakaran lokal, di Tanjungpandan, Kamis, 3 September 2026. ANTARA/Apriliansyah

Kabut Asap Tipis di Tanjungpandan Belitung Dipicu Pembakaran Lokal

Silvana Febiari • 3 September 2026 18:34

Belitung: Kabut asap tipis mulai menyelimuti wilayah Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi tersebut terjadi akibat maraknya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal di sejumlah titik.

Forecaster On Duty Stasiun Meteorologi Kelas III H AS Hanandjoeddin Tanjungpandan, Ariel mengatakan fenomena asap tipis tersebut berasal dari akumulasi emisi pembakaran lokal yang terbawa oleh pergerakan angin.

"Mengingat pola pergerakan angin saat ini bertiup dari arah tenggara, sebaran asap yang teramati di udara merupakan dampak langsung dari akumulasi emisi pembakaran lokal di titik-titik tersebut yang terbawa angin ke area permukiman dan sekitarnya," kata Ariel, dilansir dari Antara, Kamis, 3 September 2026. 


Berdasarkan pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 00.00 hingga 11.00 WIB, terdeteksi sebanyak 36 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Pulau Belitung. Secara keseluruhan, terpantau 155 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang (medium) di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Di Kabupaten Belitung Timur tercatat 22 titik panas, terbanyak di Pulau Belitung. Sebanyak 14 titik berada di Kecamatan Kelapa Kampit, empat titik di Simpang Renggiang, tiga titik di Damar, dan satu titik di Simpang Pesak.


Polisi Bangka Tengah menangani karhutla di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Sungaiselan, Senin, 31 Agustus 2026. ANTARA/Ahmadi


Sementara itu, Kabupaten Belitung terdeteksi 14 titik panas. Sebanyak sembilan titik berada di Kecamatan Sijuk, tiga titik di Badau, serta masing-masing satu titik di Membalong dan Tanjungpandan.

Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pihak-pihak terkait meningkatkan kewaspadaan serta menghentikan segala bentuk aktivitas pembakaran lahan.

"Hal ini penting guna mencegah bertambahnya titik api baru yang dapat memperburuk ketebalan asap dan menurunkan kualitas udara di Pulau Belitung," ujarnya.

(Silvana Febiari)