Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. Minggu (6/9/2026). ANTARA/HO-Tangkapan layar
Waspada Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Simak Cara Antisipasi Dampaknya
Arga Sumantri • 6 September 2026 11:39
Jakarta: Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat berdampak pada kesehatan, jarak pandang, hingga aktivitas sehari-hari. Masyarakat diimbau tetap waspada dengan menggunakan masker saat berada di luar rumah, melindungi mata, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika abu cukup pekat.
Pakar Geofisika dan Vulkanologi Surono mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai abu halus akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang dapat terbawa angin hingga Lampung dan Banten. Masyarakat diimbau menggunakan masker untuk mencegah abu masuk ke saluran pernapasan.
"Debu halus itu walaupun halus itu mengandung silika yang cukup, konsentrasinya cukup tinggi sehingga bisa mengganggu saluran pernafasan yang bisa akut gitu ya jadi saya kira itu," ujar Surono dalam wawancara bersama Metro TV, Minggu, 6 September 2026.
Langkah Antisipasi
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau sudah menyebar hingga ke berbagai daerah, termasuk Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya. Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi dampaknya bagi kesehatan. Berikut ini penjelasannya:1. Menggunakan masker
Warga diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Masker dapat mencegah debu halus vulkanik masuk ke saluran pernafasan."Gunakan saja masker, menutup hidung dan mulut agar supaya tidak masuk kepada saluran pernafasan debu halus itu. Walaupun halus, itu mengandung silika yang cukup, konsentrasinya cukup tinggi sehingga bisa mengganggu saluran pernafasan yang bisa akut gitu," beber Surono.
2. Mengurangi aktivitas luar ruangan
Warga diimbau sementara waktu mengurangi aktivitas di luar ruangan jika memang tidak terlalu mendesak. Kualitas udara luar akibat sebaran debu halus dapat mengganggu kesehatan.
Abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Foto: ANTARA/Desi Purnama Sari.