Pendukung Houthi mengangkat replika rudal dan drone saat demonstrasi anti-AS dan anti-Israel di Sanaa, Yaman. (Yahya Arhab/EPA-EFE)
Houthi Ikut Perang, Apa Dampaknya Jika Selat Bab el-Mandeb Ditutup?
Riza Aslam Khaeron • 2 April 2026 12:39
Jakarta: Kelompok militan Syiah Zaidiyah di Yaman—penguasa ibu kota Sana’a dan kerap disebut sebagai salah satu proksi utama Iran—resmi menyatakan keterlibatannya dalam perang membela Iran pada 28 Maret 2026.
Keputusan Houthi ini diambil satu bulan setelah konflik besar pecah pada 28 Februari 2026, menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei.
Sebelumnya, ketika perang di Gaza masih bergejolak sebelum gencatan senjata, Houthi telah aktif menyerang kapal-kapal di Laut Merah yang dianggap memiliki keterkaitan dengan Israel. Saat itu, mereka mengklaim serangan tersebut sebagai bentuk solidaritas nyata terhadap warga Palestina.
Kini, Houthi akhirnya bergabung secara resmi dalam palagan yang lebih luas, hanya selang beberapa minggu setelah Teheran menutup Selat Hormuz.
Langkah Iran untuk menutup jalur air tersebut—yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia—telah memberikan tekanan yang sangat berat terhadap stabilitas ekonomi global.
Menyusul keikutsertaan Houthi, para analis kini memberikan peringatan serius akan munculnya titik panas baru: Selat Bab el-Mandeb.
Mengingat posisi geografis Yaman yang berada tepat di satu sisi selat strategis tersebut, kekhawatiran ini bukanlah tanpa alasan.
Houthi memiliki rekam jejak dalam melancarkan serangan terhadap pelayaran di Laut Merah yang sempat menyebabkan gangguan logistik masif pada akhir 2023 hingga 2024.
Laporan Bloomberg pada 31 Maret 2026 mengindikasikan bahwa Iran telah mendekati pihak Houthi untuk mempersiapkan kampanye serangan serupa di wilayah tersebut.
Namun, seberapa krusial sebenarnya peran selat ini bagi dunia, dan dampak apa yang akan terjadi jika jalur ini ikut ditutup seperti halnya Selat Hormuz? Berikut adalah ulasan lengkapnya.
Apa Itu Selat Bab el-Mandeb?

Peta selat Bab el-Mandeb. (saxafimedia.com)
Selat Bab el-Mandeb adalah jalur perairan sempit yang hanya berukuran sekitar 30 kilometer di titik tersempitnya. Secara geografis, selat ini terletak di antara Yaman di semenanjung Arab di sisi timur laut, serta Eritrea dan Djibouti di benua Afrika di sisi barat.
Dalam bahasa Arab, namanya secara harfiah berarti "Gerbang Air Mata" — sebuah julukan yang lahir dari kondisi pelayarannya yang terkenal berbahaya.
Kepentingan selat ini bagi dunia tidak bisa dipandang sebelah mata. Bersama Terusan Suez di Mesir, Bab el-Mandeb menjadi penghubung vital yang memungkinkan kapal-kapal melintasi jalur langsung antara Laut Mediterania dan Samudra Hindia melalui Laut Merah dan Teluk Aden.
Mengutip Flavio Macau, Wakil Dekan dan pengamat bisnis dan hukum dari Universitas Edith Cowan, sebelum Terusan Suez dibuka pada abad ke-19, kapal-kapal terpaksa menempuh perjalanan jauh memutar ujung selatan Benua Afrika untuk menghubungkan kedua titik tersebut.
Dari sisi waktu, Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat bahwa perjalanan antara Laut Arab dan Belanda yang normalnya memakan 34 hari via rute Afrika, bisa dipangkas menjadi hanya 19 hari lewat jalur ini.
Berdasarkan laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam kondisi normal, sekitar 14% dari total perdagangan maritim global melintasi Selat Bab el-Mandeb.
Bahan bakar fosil menjadi salah satu komoditas utamanya.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pada 2025, sekitar 4,2 juta barel minyak mentah dan produk turunannya melintas setiap harinya — setara dengan sekitar 5% dari total produksi minyak dunia.
Selain energi, kapal-kapal kargo yang mengangkut komoditas pertanian seperti jagung, gandum, dan kedelai, serta kapal kontainer, juga menjadi bagian besar dari lalu lintas di jalur ini.
Apa yang Akan Terjadi Jika Selat Bab el-Mandeb Ditutup?

Peta selat Bab al-Mandeb dan selat Hormuz. (NDTV)
Para analis memperingatkan bahwa gangguan di Selat Bab el-Mandeb akan membawa konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan — terutama karena ia terjadi bersamaan dengan blokade Selat Hormuz yang sudah berjalan.
Pakar Timur Tengah dari Universitas Cambridge, Elisabeth Kendall, menyebut skenario ini sebagai situasi mimpi buruk. Jika dua selat strategis itu terganggu secara bersamaan, perdagangan menuju Eropa bisa terguncang hebat, bahkan lumpuh.
"Ini benar-benar seperti di ujung pisau, tergantung apa yang terjadi selanjutnya," ujarnya kepada Al Jazeera.
Analis J.P. Morgan, termasuk Natasha Kaneva selaku Kepala Strategi Komoditas Global, juga memberikan peringatan serupa melalui laporan pada Minggu, 29 Maret 2026.
Mereka menyebut keterlibatan Houthi telah menciptakan "dua koridor energi global yang kini terekspos secara bersamaan", yang secara nyata mempersempit opsi pengalihan rute dan meningkatkan risiko rantai pasokan secara menyeluruh.
Yang menjadikan situasi ini semakin genting adalah ancaman terhadap jalur ekspor alternatif Arab Saudi. Selama ini, Arab Saudi mengandalkan pelabuhan Yanbu di Laut Merah sebagai jalur bypass untuk menghindari Selat Hormuz.
Kapasitasnya mencapai sekitar 5 juta barel per hari. Namun jika Houthi melancarkan serangan ke Yanbu dan Bab el-Mandeb, kemampuan Riyadh untuk meneruskan ekspor minyak lewat jalur alternatif tersebut bisa runtuh. J.P. Morgan memperkirakan ancaman ini saja sudah cukup untuk mendongkrak harga minyak sebesar USD20 per barel.
Pada Kamis, 2 April 2026, melansir Trading Economics, harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 5% dan kembali menembus level di atas USD100 per barel, menyusul pernyataan Presiden Trump yang tidak memberikan sinyal penyelesaian konflik yang jelas.
Data pasar ketika artikel ini disusun, menunjukkan Crude Oil di angka USD104,9, sementara Brent menyentuh USD107,05 per barel.
| Baca Juga: Resmi Ikut Perang, Houthi Gempur Israel dengan Serangan Rudal |
Apakah Selat Bab el-Mandeb Akan Ditutup?

Kapal UEA yang ditenggelamkan Houthi di laut merah. (gCaptain)
Sejauh ini, baik Houthi maupun Iran belum secara resmi mengumumkan rencana untuk menutup selat tersebut. Namun sinyal-sinyal ancaman terus mengalir.
Analis Al Jazeera menilai bahwa gangguan di Bab el-Mandeb akan memberikan "leverage tambahan" bagi Iran dan sekutunya di tengah gempuran udara yang terus berlangsung dari Israel dan AS.
Namun Elisabeth mengingatkan kepada Al-Jazeera bahwa meski selat ini menjadi "titik manis" bagi Houthi, kelompok tersebut mungkin tidak ingin memancing respons militer dari Arab Saudi maupun koalisi yang lebih luas. Pertimbangan itu yang hingga kini tampaknya masih menahan Houthi untuk benar-benar merealisasikan ancamannya.
Namun, Houthi baru-baru ini memberikan ancaman kepada negara-negara Teluk yang dilaporkan semakin condong untuk ikut berperang untuk membuka blokade selat Hormuz.
Melansir Times of Israel, Wakil Menteri Informasi Houthi, Mohammed Mansour, menegaskan kepada Al-Monitor bahwa penutupan Bab el-Mandeb adalah "opsi Yaman yang bisa diimplementasikan" jika agresi terhadap Iran dan Lebanon semakin liar, atau jika negara-negara Teluk ikut terlibat langsung secara militer mendukung Amerika Serikat maupun Israel.
"Kami memiliki tanggung jawab religius, moral, dan kemanusiaan yang tidak membolehkan kami berdiam diri," kata Mansour.
Hingga saat ini, belum ada negara Teluk yang secara resmi bergabung dalam perang Israel-AS melawan Iran. Meski demikian, Wall Street Journal melaporkan pada hari Selasa bahwa Uni Emirat Arab (UEA) terus mendorong AS untuk meluncurkan operasi militer guna membuka kembali Selat Hormuz secara paksa, dan menyatakan kesediaan mereka untuk membantu secara militer.
Sementara itu, beberapa media internasional seperti The Guardian dan New York Times (NYT) melaporkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al Saud, diduga telah mendorong Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan kampanye militer tersebut. Hal ini tampaknya telah dikonfirmasi oleh pernyataan Trump di Oval Office pada 24 Maret 2026.
"Dia (Mohammed bin Salman) melakukannya, dia seorang pejuang. Dia berperang bersama kita," ujar Trump.
Negara-negara Teluk, yang sebagian besar menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS, telah berulang kali menjadi sasaran tembak Teheran selama kampanye militer terhadap Republik Islam tersebut.
Kekhawatiran kini semakin memuncak atas langkah Iran yang menutup Selat Hormuz dan menjadikan jalur air vital—yang merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan LNG global—sebagai kartu truf dalam negosiasi.