Jalan Alternatif Ditarget Mengurangi Kemacetan di Kawasan Sentul

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto. Dokumentasi/ istimewa.

Jalan Alternatif Ditarget Mengurangi Kemacetan di Kawasan Sentul

Deny Irwanto • 14 April 2026 06:06

Bogor: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melihat proyek pembangunan akses jalan alternatif dari Taman Budaya menuju Puncak II sebagai solusi jangka panjang dalam mengurai kemacetan.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto, mengatakan seluruh proses pembangunan telah berjalan sesuai aturan. Penggunaan lahan cadangan efektif di Vepasamo mengacu pada Site Plan tahun 2023 yang telah disahkan.

"Ini untuk memudahkan masyarakat, mempercepat akses untuk kepentingan umum, sekaligus mengurangi kemacetan," kata Eko di Bogor, Senin, 13 April 2026.

Eko menjelaskan langkah yang ditempuh pemerintah bersama pihak Sentul City tidak lepas dari prinsip kepentingan publik. Ia juga menegaskan perubahan site plan merupakan bagian dari mekanisme perizinan resmi yang menjadi kewenangan pemerintah daerah, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Eko juga menyoroti perubahan posisi Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) adalah hal yang dimungkinkan, selama telah melalui kajian dan tetap memenuhi rasio yang dipersyaratkan oleh regulasi.

"PSU termasuk RTH bukan berarti harus berada di satu titik selamanya. Yang diatur pemerintah adalah total luasnya tetap terpenuhi. Lokasinya bisa saja bergeser, tetapi fungsinya tetap ada bahkan dapat ditingkatkan kualitasnya," jelas Eko.


Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Bogor, Eko Mujiarto. Dokumentasi/ istimewa.

Di sisi lain, harapan terhadap pembangunan jalan ini juga datang dari warga yang merasakan langsung dampak kemacetan. Bagi mereka, akses alternatif bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi kebutuhan sehari-hari.

Eko menekankan selain membantu mengurai kepadatan di ruas Jalan Siliwangi–MH Thamrin Sentul City, jalan ini juga diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di desa-desa sekitar.

Respons masyarakat sendiri beragam. Sejumlah warga Cluster Venesia sempat menyampaikan keberatan karena menganggap lahan yang digunakan merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Namun di sisi lain, dukungan justru mengalir dari banyak warga, termasuk dari wilayah sekitar seperti Sumur Batu dan Babakan Madang.

Ketua RT Cluster Venesia, Tata Djuarsa, menggambarkan bagaimana kondisi lalu lintas saat akhir pekan menjadi pertimbangan utama. Ia menyebut mayoritas warga menyambut baik rencana pembangunan jalan tersebut.

"Kami sebagian besar menyambut baik pembangunan jalan ini. Mobilitas semakin tinggi, apalagi saat weekend jalan MH Thamrin macet. Ini jelas membantu warga," jelas Tata.

Hal senada disampaikan Debby, warga lainnya, yang melihat proyek ini sebagai langkah maju.

"Ada kemajuan, apalagi ini sudah melalui perizinan dan kajian pemerintah. Bagi warga, ini jelas untuk mengatasi kemacetan, jadi sangat positif," ungkapnya.

Sementara itu, pihak Sentul City memastikan komitmennya dalam mendukung program pemerintah daerah, termasuk penggunaan lahan cadangan efektif untuk pembangunan akses jalan menuju Puncak II.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Deny Irwanto)