Kuba Alami Pemadaman Listrik Nasional Ketiga dalam Kurang dari Dua Pekan

Kuba kembali mengalami pemadaman listrik nasional ketiga dalam dua pekan di tengah krisis energi. (Anadolu Agency)

Kuba Alami Pemadaman Listrik Nasional Ketiga dalam Kurang dari Dua Pekan

Willy Haryono • 15 July 2026 17:16

Havana: Kuba kembali mengalami pemadaman listrik berskala nasional pada Selasa, 14 Juli 2026, yang menyebabkan seluruh wilayah negara kepulauan tersebut kehilangan pasokan listrik.

Dikutip dari Euronews, Rabu, 15 Juli 2026, insiden ini menjadi pemadaman total ketiga yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, di tengah tekanan berat terhadap sistem kelistrikan Kuba akibat krisis bahan bakar dan embargo energi Amerika Serikat.

Perusahaan listrik negara, Electric Union, mengatakan gangguan dipicu oleh masalah pada salah satu unit pembangkit di Provinsi Holguín, Kuba timur, yang menyebabkan perubahan frekuensi secara mendadak dan memicu runtuhnya Sistem Kelistrikan Nasional (SEN) sekitar tengah hari waktu setempat.

Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba bersama Electric Union menyatakan bahwa protokol pemulihan darurat segera diaktifkan.

Pemerintah mulai membentuk jaringan listrik sementara atau micro-islands yang kemudian dihubungkan secara bertahap untuk memulihkan pasokan listrik ke fasilitas-fasilitas prioritas seperti rumah sakit, pusat pengolahan makanan, dan layanan penting lainnya.

Pada sore hari, sebagian wilayah Havana mulai kembali mendapatkan aliran listrik, meskipun pemerintah menyebut baru sekitar empat persen wilayah ibu kota yang telah pulih.

Beberapa provinsi lain seperti Guantánamo dan Cienfuegos juga melaporkan dimulainya distribusi listrik untuk rumah sakit, sementara kota tua Matanzas disebut telah kembali mendapatkan pasokan energi.

Krisis Energi Memburuk

Sejak Januari lalu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang memasok atau menjual minyak kepada Kuba.

Kebijakan tersebut menyebabkan pasokan bahan bakar ke negara Karibia itu semakin terbatas dan memperburuk krisis ekonomi yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Kuba saat ini hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen dari kebutuhan bahan bakarnya sendiri, sementara solusi untuk memenuhi kebutuhan impor energi belum terlihat dalam waktu dekat.

Akibat kekurangan energi, transportasi umum di berbagai wilayah nyaris berhenti beroperasi dan pemerintah terpaksa membatalkan puluhan ribu prosedur operasi di rumah sakit.

Pemadaman listrik juga berdampak terhadap berbagai aktivitas dasar masyarakat, mulai dari memasak, pasokan air bersih, layanan internet, hingga jaringan telepon.

Jutaan Warga Terdampak

Pekan lalu, dua pemadaman nasional yang terjadi pada Senin dan Jumat membuat lebih dari sembilan juta warga Kuba kehilangan akses listrik.

Insiden tersebut menambah daftar pemadaman besar yang sebelumnya juga terjadi pada Maret lalu, selain sejumlah gangguan regional lainnya.

Pemerintah Kuba menilai embargo energi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang memperparah situasi.

Washington menerapkan kebijakan tersebut pada Januari setelah penangkapan Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, serta mengancam menjatuhkan tarif kepada negara-negara lain yang menjual bahan bakar ke Kuba.

Empat anggota Kongres dari Partai Demokrat yang mengunjungi Kuba akhir pekan lalu bahkan menggambarkan dampak embargo energi tersebut telah mengubah negara itu menjadi "Gaza yang sunyi" (silent Gaza), merujuk pada tingkat kesulitan yang dialami masyarakat akibat krisis berkepanjangan.

Baca juga:  Kuba Gelap Gulita di Pemadaman Listrik Nasional Kedua dalam Sepekan

(Willy Haryono)