Musa Yusuf, petani keramba Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Jambi, membersihkan ikan mati dari dalam keramba apung miliknya yang berada di tepi Sungai Batanghari, Minggu (9/8/2026). ANTARA/Agus Suprayitno
Puluhan Ton Ikan Mati di Sungai Batanghari
Whisnu Mardiansyah • 9 August 2026 14:31
Jambi: Ratusan petani keramba di Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muaro Jambi, mengalami kerugian besar. Puluhan ton ikan mereka mati diduga akibat pencemaran air Sungai Batanghari.
"Jumlahnya banyak, paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati," kata Musa Yusuf, petani keramba di Desa Sarang Burung, seperti dilansir Antara, Minggu, 9 Agustus 2026.
Musa menjelaskan, kematian ikan meningkat dalam tiga bulan terakhir seiring menyusutnya debit air akibat kemarau. Selain itu, ia menduga limbah merkuri dari tambang ilegal di hulu sungai turut memperparah kondisi.
Ia meminta pemerintah segera turun tangan agar nasib petani ikan di sepanjang aliran sungai tidak terus terancam. Kecamatan Jaluko dikenal sebagai salah satu sentra ikan air tawar di Jambi. Petani tersebar di Desa Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut, dan Pematang Jering, dengan budidaya ikan mas dan nila.
Kerugian diperkirakan mencapai puluhan ton ikan per bulan. "Di Jaluko saja mungkin puluhan ton mati tiap bulan, karena ada ribuan tambak. Satu petak bisa rugi dari 8.000 ikan, hanya 800–900 yang hidup. Kalau punya 10 petak, hitung saja sendiri," ujarnya.
Anggota DPRD Jambi, Ivan Wirata, menilai pencemaran Batanghari merupakan akumulasi masalah dari hulu ke hilir, mulai tambang ilegal, limbah rumah tangga, industri, hingga abrasi akibat kurangnya penghijauan.
Ia menyebut kekeruhan air mencapai 1.400 NTU, hampir empat kali lipat dari normal. Ivan mendorong pemerintah lintas sektor bertindak dan menjadikan DAS Batanghari sebagai Proyek Strategis Nasional.

Ikan mati massal di saluran irigasi. ANTARA/Ali Khumaini
"Ikan mati hanya gejala. Masalah utamanya kerusakan ekosistem hulu. Kalau DAS Batanghari diselamatkan, sungai ini bukan hanya sumber kehidupan, tapi juga investasi ekonomi besar," tegasnya.
Peneliti ikan Sumatra dari Universitas Jambi (Unja), Tedjo Sukmono, menyebut tambang ilegal terbukti mengancam biota perairan. Dari 300 spesies ikan pada 1986–1994, kini tinggal 135 jenis berdasarkan riset tiga tahun lalu.
Ia menekankan perlunya gerakan sosial dan rencana pengelolaan sungai yang terintegrasi.
"Perlu gerakan sosial untuk penyelamatan Sungai Batanghari, penyusunan rencana pengelolaan secara bersama dan terintegrasi," sebutnya.